• slide 1

    No Excuse! for Professional and Worker

    Jika Anda berhasil melepas hambatan excuse, produktivas kerja dan penghasilan akan berlipat ganda

  • slide 2

    Workshop Menulis

    Menulis membuat Anda mempunyai nilai lebih, membuat ide tidak mati dan abadi

  • slide 3

    No Excuse! for Education

    Raih hasil terbaik di dunia akademisi dengan menaklukkan segala excuse yang menghambat kesuksesan di dunia pendidikan

  • slide 4

    Buku dan Penerbitan

    Abadikan ide Anda. Ternyata membuat buku lebih mudah dari mengarang satu buah cerpen. Terbukti di sini.

  • slide 5

    Workshop Menulis Anak dan Remaja

    Kemampuan menulis akan sangat bermanfaat untuk masa depan anak-anak. Yang penting ditanamkan adalah kecintaan pada menulis dan dasar penulisan yang benar

  • slide 7

    Workshop dan Seminar Jurnalistik

    Jurnalisme bukan sekedar berita, informasi atau bacaan, tapi cara kita menjadi bagian perubahan dunia

  • slide nav 1

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya
  • slide nav 2

    Workshop Menulis

    Metode terkini, update, mudah diaplikasikan dan karya layak akan diterbitkan
  • slide nav 3

    No Excuse! for Education

    Pendidikan dengan semangat No Excuse! akan menjamin masa depan bangsa
  • slide nav 4

    Workshop Buat Buku

    Membangun semangat untuk minimal menghasilkan satu karya buku sebelum mati
  • slide nav 5

    Workshop Menulis Anak

    Menumbuhkan rasa cinta dan kemampuan membaca dan menulis sejak dini
  • slide nav 6

    Workshop Jurnalistik

    Membangun media sebagai salah satu pilar perubahan untuk masa depan lebih baik
  • slide nav 7

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya

Selamat Datang di Komunitas Bisa!

/*--------------------- menufs3 ateonsoft.com ------------------------*/ #menufs3-wrapper {width:100%; height:27px; background: #000000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3bg.gif') repeat-x top left; border-top:1px solid #333; padding-left:0px; margin-bottom:9px; overflow:hidden} #menufs3-wrapper h2 {display:none} #menufs3, #menufs3 ul {padding: 0px; margin: 0; list-style: none; font: normal 0.95em arial; color:#fff;} #menufs3 a {display: block;text-decoration: none; border-right: 1px solid #000; border-left: 1px solid #202020; color: #fff; background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3bg.gif') repeat-x top left;; padding-left:9px; padding-right:9px; padding-top:6px; padding-bottom:7px} #menufs3 a.awal {padding: 0px; border-left: 0px none;width: 90px; height:27px; background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3Awal.gif') no-repeat;} #menufs3 a.awal:hover{background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3Awalhvr.gif') no-repeat;} #menufs3 a.awal em {display:none;} #menufs3 a.IndukMenu {font-weight:bold; text-transform:uppercase;} #menufs3 a.akhir {padding: 0px; border-left: 0px none; border-right: 0px none; width: 27px; height:27px; background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3logoVisited.gif') no-repeat;} #menufs3 a.akhir:hover {background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3logoHvr.gif') no-repeat;} #menufs3 a.akhir em {display:none;} #menufs3 li {float: left;width: 9em;} #menufs3 li.akhir{border-left: 1px solid #202020; height:27px; width: 1px; padding: 0px} #menufs3 li.akhir em{display:none;} #menufs3 li.kanan{float: right; border-left: 0px none;} #menufs3 li ul, #menufs3 ul li {width: 14em;} #menufs3 ul li a {color: #565656;border-left: 0px none; border-right: 0px none; padding-left:5px; padding-right:10px; padding-top:5px; padding-bottom:5px} #menufs3 li ul {position: absolute; display: none; background-color: #000000; z-index:200;border-right: 1px solid #141414; border-left: 1px solid #141414; border-bottom: 1px solid #141414; margin-left:-1px;text-align: left;} #menufs3 li:hover a, #menufs3 a:focus, #menufs3 a:active{color: #ffff00; background-color: #000; background-image:url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3hvr.gif'); background-repeat:repeat-x} #menufs3 li:hover ul{display: block;} #menufs3 li:hover ul a{color: #fff; border-top:1px solid #141414; background-image:url('none');} #menufs3 ul a:hover {background-color: #202020!important;color: #ffff00!important;} #menufs3 li {width: auto;}

Delete this element to display blogger navbar

Showing posts with label Parentivasi. Show all posts
Showing posts with label Parentivasi. Show all posts

0 Anak Menulis Bukan Sekedar Bakat

Isa Alamsyah

Ketiika Abdurrahman Faiz menerbitkan buku banyak yang bilang,

tentu saja Faiz bisa punya buku karena dia anaknya Helvy Tiana Rosa, penulis senior.

Ketika sepupu Faiz, Putri Salsa dan Adam Putra Frdaus menulis buku sendiri, orang juga bilang,

tentu saja Salsa bisa menulis Ibunya Asma Nadia penulis best seller.

Kalau memang mereka berdua menulis karena ibunya penulis,

lalu bagaimana Helvy dan Asma Nadia, kakak beradik bisa menulis,

padahal ayah dan bunda mereka bukan penulis.

Ternyata setelah ditelusuri bukan bakat yang membuat mereka menulis,

tapi lingkungan dan atmosfer lah yang membuat mereka menulis.

Asma Nadia mulai menulis karena terus disemangati oleh Helvy untuk menulis, bukan karena bakat.

Cerpen pertama Asma bahkan jadi lelucon bagi seniornya di teater,

dan buku pertamanya baru terbit setelah ia berusia 27 tahun.

Fakta ini cukup menunjukkan bakat menulis Asma dahulu tidak menonjol.

Helvy juga menyemangati anaknya Faiz untuk menulis.

Setelah Faiz punya buku,

Putri Salsa semangat menulis karena tertantang melihat sepupunya punya buku.

Ia panas setelah menghadiri launching buku Faiz.

Adam yang awalnya dikira cuma suka bola dan olahraga juga tidak mau ketinggalan. Ia juga menulis.

Adam makin semakin membara untuk menulis setelah menghadiri launching buku lain.

Baik Helvy atau Asma keduanya bekerja cukup keras untuk mencetak anak-anak mereka menjadi penulis,

dengan selalu melibatkan pada banyak kegiatan penulis cilik.

Artinya bukan bakat yang membuat mereka menghasilkan buku, tapi semangat dan kerja keras.

Menulis adalah keahlian, dan setiap keahlian bisa dikuasai dengan latihan.

Masih tidak percaya menjadi penulis tidak perlu bakat?

Saya perkenalkan Raihana Abida (11 tahun) penulis buku "My Lovely Roomies"

yang diterbitkan oleh AsmaNadia Publishing House di seri "Kecil-Kecil Jadi Penulis"

Ayah dan Ibu Raihana bukan penulis. Di keluarganya pun tidak ada penulis.

Lalu bagaimana bukunya bisa diterbitkan? Karena ayah ibunya memberi lingkungan yang mendukung.

Ketika kedua orangtuanya melihat tulisan anaknya bagus, mereka mencari penerbit,

salah satunya Asma Nadia Publishing.Kebetulan Asma Nadia mencari karya anak dan melihat tulisan ini bagus karena memenuhi kriteria.

Pada buku karya Raihana ada pesan moral, seru (ada konflik), dan deskripsi menarik.

Asma Nadia sangat ketat menyeleksi buku anak terbitannya,

sehingga kalau sudah memilih satu karya anak diterbitkan,

bisa dipastikan kualitasnya di atas rata-rata penulis anak-anak kebanyakan.

Maklum penerbitan kecil, lebih baik tidak menerbitkan buku daripada buku yang tidak bermutu, begitu prinsipnya.

Kini terbukti, buku Raihana yang mempunyai pesan moral kepedulian sosial ini,

bahkan ada lembaga pendidikan yang merencanakan untuk menjadikan buku ini sebagai bagian dari kurikulum.

Dalam waktu dekat AsmaNadia Publishing House juga akan menerbitkan buku pengarang cilik lain

bernama Diandra. Diandra adalah peserta workshop Menulis Asma Nadia "Fun Writting for Children".

Ayah dan bunda Diandra juga bukan penulis, tapi sangat mendukung.

Insya Allah karya Diandra juga akan segera terbit.

Jadi lingkungan dan dukungan keluarga jauh lebih penting dari sekedar bakat.

Jika ingin mengembangkan kemampuan menulis anak, ajak anak datang ke launching buku anak,

beli buku anak yang ditulis anak dan pilih yang bermutu.

Insya Allah anak jadi semnagat menulis.

Bangkitkan rasa "Kalau mereka bisa kenapa saya tidak bisa".

Masih tidak percaya menjadi penulis tidak perlu bakat?

Silahkan lihat di buku NO Excuse!

Dibuku ini terlihat jelas, banyak sekali bukti orang yang dianggap tidak berbakat di satu bidang,

ternyata setelah menggeluti bidang tersebut dengan dedikasi,

ternyata menjadi sangat unggul dibidang yang dulu dianggap tidak berbakat tersebut.

Di buku No Excuse juga akan kita temukan,

banyak sekali orang yang berbakat mereka mencapai puncak karena selalu mengasah kemampuannya,

bukan karena bakatnya.

Read more

0 "Kalau Ada Waktu" buat anak-anak

Isa Alamsyah

Malam ini nampaknya akan jadi salah satu malam tersibuk,

karena saya harus menyelesaikan finishing 4 buku di satu malam di rumah.

Segala rencana sudah disiapkan, jam berapa sampai jam berapa mengerjakan yang mana dan seterusnya

sehingga sebelum tengah malam bisa selesai. Begitu rencananya.

Tiba tiba si bungsu Adam datang dan minta ditemani untuk melatih speed lari menggunakan treadmill.

Karena memang pelatih bola menganjurkan Adam berlatih speed, saya menemani Adam latihan, meninggalkan kerja.

Saya tidak mau menunda, mumpung ia sedang semangat dan untuk jaga momentum.

Sesekali saya perhatikan waktu, nampaknya masih cukup.

Setelah selesai dan sama-sama kelelahan, saya mulai duduk depan komputer dan siap bekerja mengejar target.

Belum lama berselang, setelah mengganti bajunya yang basah kuyup, Adam datang lagi ke kamar kerja,

kali ini minta diajarkan matematika, pecahan, desimal, persen, dll.

Sekali lagi saya tunda kerja, dan coba menerangkan sebaik mungkin cara mudah agar Adam bisa mengerti.

Sesekali saya perhatikan waktu, nampaknya masih bisa dikejar.

Belum selesai menemani Adam belajar, kali ini si sulung Salsa datang.

Ia mengajak diskusi tentang proyek presentasinya atau proyek workshop dari sekolah.

Kami berdiskusi cukup lama, apakah sebaiknya menggunakan power point atau movie maker,

bagaimana menentukan tema dan angle menarik dari workshopnya.

Selama diskusi, Adam sesekali menyelak untuk bertanya soal-soal matematika yang tidak dimengertinya.

Tanpa terasa (sebenarnya terasa sih), waktu sudah menjelang tengah malam, dan anak-anak harus tidur,

dan tidak satupun pekerjaan yang harus saya kerjakan sempat terpegang.

Nampaknya semua rencana tidak berjalan.

Dan saya mengantarkan anak-anak tidur.

Maklumlah, ibunya anak-anak sedang di luar kota, jadi malam ini saya urus anak-anak.

Selepas mereka tidur, saya baru bisa mulai bekerja dan tidak tidur sampai subuh.

Ada saat rasanya ingin mengatakan, "Please I'm busy" atau " Saya sedang sibuk, jangan diganggu!" dsb

Tapi saya memilih untuk membiarkan anak-anak mengganggu saya bekerja.

Seringkali orang tua berkata "Saya sibuk" ketika diganggu anak-anaknya.

Bahkan ada yang marah ketika diganggu saat bekerja di rumah.

Daripada menolak keinginan anak yang membutuhkan waktu saya,

saya memilih untuk menunda waktu kerja untuk anak-anak dan mengorbankan waktu tidur sebagai gantinya.

Kenapa? Karena rasanya tidak fair, waktu siang kita bekerja anak-anak sudah tidak bisa bertemu,

dan ketika malam pun pekerjaan mengambil waktu anak-anak kita.

Saya selalu ingat "Why"

Salah satu alasan kenapa saya harus bekerja, harus lembur mengejar target kerja adalah

agar anak-anak lebih sejahtera dan bahagia.

Agar ketika sejahtera, saya punya waktu bebas bersama anak-anak.

Jadi tidak fair rasanya kalau saya harus korbankan anak-anak karena sesuatu yang saya lakukan untuk MEREKA juga.

Karena anak-anak adalah "WHY" atau salah satu alasan saya bekerja,

jadi saya tidak mau membalik mengorbankan mereka karena pekerjaaan.

Tapi ini bukan berarti Anda tidak bekerja profesional.

Saya tetap mengejar target, hanya saja saya korbankan waktu tidur, bukan waktu bersama anak-anak.

Kadang-kadang memang harus demikian.

Salah satu yang paling dibutuhkan anak dari orang tua adalah "WAKTU"

Paling ideal adalah memberikan KWANTITAS dan KUALITAS WAKTU.

Kalaupun belum sanggup minimal KUALITAS WAKTU.

Waktu berkualitas adalah PERHATIAN.

Di antara kebutuhan waktu tersebut ada yang disebut MOMENTUM.

Hadiah waktu terbaik adalah MOMENTUM yang TEPAT.

Dan MOMENTUM yang tepat adalah saat mereka MEMBUTUHKAN.

Kapan saat anak-anak membutuhkan ORANG TUA, ya saat mereka meminta dan datang kepada kita.

Karena itulah saya sering meninggalkan kesibukan jika MOMENTUM kebutuhan anak datang.

Karena HADIAH terbaik adalah hadiah yang diberikan saat dibutuhkan.

Seringkali dalam seminar dan workshop motivasi saya tekankan:

"Segeralah kaya ketika muda. Segeralah sejahtera ketika anak-anak masih kecil"

Kenapa? Karena mereka butuh waktu kita ya saat mereka masih kecil.

Jangan tunggu punya kebebasan waktu ketika pensiun, atau makmur ketika tua.

Karena ketika tua mereka sudah punya teman, sudah punya organisasi dan sudah sibuk dengan dirinya sendiri.

Jangan disaat mereka sudah matang dan sibuk kita malah mengganggu mereka.

Apalagi kalau menunggu tua baru punya waktu, mungkin kesehatan kita juga sudah parah.

Karena itu, BUAT WAKTU untuk anak anak. Jangan KALAU ADA WAKTU.

Kalau kesejahteraan finansial belum cukup maka berikan WAKTU.

Waktu yang Anda miliki, dengan waktu yang dimiliki orang terkaya di dunia jumlahnya sama, 24 jam sehari.

Gunakan kekuatan WAKTU untuk membahagiakan anak.

Jangan katakan KALAU ADA waktu, karena SELALU SAJA ADA KESIBUKAN.

Waktu HARUS DISEDIAKAN, dan DISIAPKAN dan DIJATAHKAN untuk anak-anak kita.

Read more

0 Home Safety: Tahukah Anda Elpiji?

Isa Alamsyah

Elpiji sudah dikenal dimana mana.

Sekalipun berita meledaknya tabung elpiji sudah sering dimuat, tapi kini nampaknya tidak banyak pilihan,

kita mau tidak mau harus pakai elpiji di rumah.

Tapi apakah Anda benar-benar tahu apa elpiji?

Agar tidak jadi korban ketidaktahuan tentang elpiji, maka saya akan beri catatan penting tentang ini.

Kata elpiji berasal dari singkatan LPG yang dalam bahasa Inggris dibaca 'epliji.'

LPG sendiri merupakan singkatan dari Liquefied Petroleum Gas (Bahan bakar/ minyak bumi gas yang dicairkan).Jadi tolong diingat jelas-jelas elpiji adalahBAHAN BAKAR.

Perlu diketahui, elpiji tidak berbau sama sekali.

Lalu bau apa yang kita cium kalau gas bocor?

Yang kita cium adalah bau Methanethiol yang sengaja diberikan ke gas elpiji agar terdeteksi kalau bocor.

Sekarang saya akan tanya pada Anda:Apakah Anda setuju kalau semprotan nyamuk (spray) diisi dengan elpiji sebagai tenaga dorongnya?

Apakah Anda setuju kalau minyak wangi spray diisi dengan elpiji sebagai tenaga dorongnya?

Tentu Anda tidak setuju bukan? Ya, karena berbahaya

Tapi tahukah Anda, semprotan nyamuk spray, minyak wangi spray, yang saat ini ada di rumah,

isinya tidak lain adalah gas elpiji.

Isinya tidak lain adalah C3H8 yang merupakan bahan bakar.

Apa bedanya gas elpiji 7 kg, 12 kg, dengan semprotan nyamuk atau minyak wangi?Bedanya kalau elpiji 7 kg dan 12 kg digunakan untuk masak dan diberi pembau Methanethiol (seperti yang biasa kita cium kalau gas bocor), sedangkan penyemprot nyamuk diberi bau zat pembunuh nyamuk dan minyak wangi diberi bau wangi.Sedangkan kandungan gasnya sama elpiji atau dengan kata lain sama-sama bahan bakarKaget? Saya saja kaget pertama kali mendengarnya baru-baru ini.

Kenapa saya jadi tahu?Karena saya sendiri beberapa hari lalu jadi korbannya.

Katakanlah saya jadi korban kebodohan sendiri karena tidak tahu ini.

Saya terpaksa menceritakan ini biar Anda tidak jadi korban,

terus terang saya juga tertawa sendiri kalau ingat kebodohan yang satu ini.

Ceritanya, ada tikus membuat lubang di bawah lemari dapur.

Ada beberapa lubang dan saya pasang lem tikus.

Untuk mengusir tikus yang ada di dalam (kebetulan saya lihat tikusnya masuk) maka saya semprotkan penyemprot nyamuk ke lubang. Tapi tikusnya tidak keluar.

Tiba tiba muncul ide gila (atau ide bodoh). Saya ingin menakut-nakuti tikus dengan api.

Lalu saya klik api ke lubang tikus tersebut.

Selang beberapa detik "BOOOOOM"

Terjadi ledakan yang cukup dasyat'

Tiga pintu lemari dapur rusak. Lemari dapur terangkat ke atas, dan keramik penahannya pecah.

Api menyambar sampai 1 meter kubik percis seperti ledakan di film-film. Ceilee gaya.

Bedanya kalau di film jagoannya loncat dan selamat, saya gak sempat loncat jadi kena sambar api sedikit di bagian tangan.Alhamdulillah untungnya hanya terkena bagian tangan kiri, luka bakar tingkat 1 (ringan) dan sudah membaik.

Cuma bulu tangan praktis hilang.

(Kebetulan dulu saya ikut PMR, jadi pertolongan pertamanya terselamatkan. Kata dokter di UGD karena penanganan luka bakar awalnya bagus, jadi lukanya tidak parah (NB: kalau ada luka bakar siram terus dengan air keran).

Selain itu alhamdulillah tabung gas di rumah dipisahkan dengan tombok dengan dapur jadi keadaan tidak menjadi lebih parah.

Lalu kenapa saya bisa sebodoh itu?Jawabannya karena saya tidak tahu informasi di atas sebelumnya.

Saya tidak tahu kalau gas di dalam penyemprot nyamuk ternyata elpiji (bahan bakar murni).

Saya kira di dalam penyemprot nyamuk itu adalah aerosol dan saya kira aerosol itu bukan bahan bakar tapi sekedar bisa memberi sambaran yang lembut (bukan ledakan)..Saya tahu semprotan nyamuk bisa terbakar, tapi tidak tahu bisa sebesar itu.

Kalau saya tahu isi penyemprot nyamuk adalah elpiji tentu saja tidak akan sebodoh itu.

Intinya semua terjadi karena saya tidak tahu semprotan nyamuk itu ternyata isinya tidak lain adalah elpiji.

Darimana saya tahu bahwa semprotan nyamuk ternyata berisi elpiji?Kebetulan dalam sebuah meeting saya bertemu seorang kepala insinyur dari perusahan korek api gas.

Dia memberi tahu informasi di atas ketika melihat luka bakar di tangan saya.

Dia juga menekankan bahwa terjadinya kebakaran harus ada tiga faktor (yang disebut segitiga api yaitu: Ada bahan bakar, ada udara dan ada percikan).

Nah waktu saya menyemprotkan pembasmi nyamuk, yang ada adalah udara dan bahan bakar, tapi tidak ada percikan.

Ketika saya kasih api maka ada percikan, sehingga terjadilah ledakan atau kebakaran.

Begitu juga kalau ada gas bocor di tengah malam.Kalau ada gas bocor, itu tidak berbahaya. Tapi ketika kita menyalakan lampu untuk mengecek, maka ada percikan dan menyebabkan kebakaran/ledakan. Karena itu kalau ada gas bocor, lepas dulu selangnya baru nyalahkan lampu.

Dan jangan merokok kalau ada bau gas bocor.

Untuk memperkuat informasi ini, Kemudian saya googling di internet.

Ternyata di wikipedia diungkap bahwa dulu penyemprot spray banyak menggunakan chlorofluorocarbons, tapi karena merusak ozon diganti dengan elpiji.

Simak data di bawah:

Liquefied petroleum gas (also called LPG, GPL, LP Gas, or autogas) is a flammable mixture of hydrocarbon gases used as a fuel in heating appliances and vehicles. It is increasingly used as an aerosol propellant and a refrigerant, replacing chlorofluorocarbons in an effort to reduce damage to the ozone layer.

Nah untuk keamanan di rumah maka:Tip 1: Semprotan nyamuk tetap aman dipakai. Tapi untuk menjaga kesehatan, jangan masuk kamar yang disemprot sebelum 1 jam. Tunggu nyamuknya mati jangan biarkan kita menghirup racunnya.

Tip 2: Jauhkan kaleng penyemprot nyamuk dan kalneg spray minyak wangi dari api atau daerah panas.

Tip 3: Jangan bawa minyak wangi spray dalam kaleng yang memakai tekanan gas ke atas pesawat, kalau tekanan tidak normal bisa meledak di pesawat.

tip 4: Sebaiknya pisahkan kompor gas dan tabung gas. Buat tabung gas di balik tembok dan buat lubang di tembok.

tip 5 : Sebaiknya dapur ada ruang udara yang langsung keluar, ventelasi besar sehingga sirkulasi udara bagus.

tip 6 : Jangan buang sampah kaleng bekas semprotan nyamuk ke tempat sampah kecuali dikosongkan total.Kalau masih ada gas, lalu sampah dibakar ia jadi ledakan. Jangan kosongkan dengan dipaku, dikhawatirkan proses memaku lubang akan menghasilkan percikan yang memicu ledakan.

Tip 7 : Kalau ada yang luka bakar langsung alirkan dengan air mengalir (air kran) selama 10 - 20 menit sambil menunggu ke UGD (Biasanya di sana diberi bioplacenton, NaCL atau Sofatul tergantung kondisi).

Apakah Anda bisa berbagi cerita yang berhubungan dengan ini, ditunggu komentarnya.

Read more

0 Gulliver's Travels

Isa Alamsyah

Kisah Gulliver yang terdampar di negeri liliput mungkin bukan kisah yang asing lagi.

Wajar saja karena buku novel Gulliver's Travels sudah ada sejak tahun 1726 dan selama berabad abad di-republish dan dibaca ulang serta diceritakan dari generasi ke generasi.

Sedikit berbeda dengan versi buku klasiknya, film Gulliver's Travels baru beredar awal tahun 2011 ini, akan mengangkat kisah Gulliver versi lama yang telah di kombinasi dengan kehidupan modern.

Di kisah film Gulliver Travel ini, Gulliver digambarkan sebagai petugas kurir di kantor yang selama bertahun tahun hanya mempunyai posisi seperti itu saja. Posisi terbawah. Sepanjang waktu, kerjanya hanya bermain dan menikmati kehidupan seperti anak kecil.

Sampai suatu ketika ia terdampar di negeri liliput dan menjadi orang yang paling berkuasa.

Apakah ia akan menjadi penguasa yang buruk?Apakah ada yang bisa mengalahkannya?Apakah ia mau kembali ke dunianya atau betah justru di negeri liliput.

Bagaimana kelanjutannya, silahkan saksikan sendiri filmnya.

Film yang dibintangi Jack Black sebagai Gulliver ini disajikan dengan gaya komedi yang sangat menghibur siapa saja.

Pada beberapa scene ide-ide humornya cukup liar (dalam arti positif - mirip seperti gaya Jack Black di School of Rock), dan sekalipun beberapa humor bersifat slapstick, tapi tetap menghibur, terutama buat anak-anak.

Pokoknya gak nyesel deh nonton film ini.

Yang lebih menarik lagi, sebagaimana sebagian besar film anak-anak, film ini juga punya selipan pesan.

Dari film ini kita bisa belajar tentang:Jangan takut bermimpi!

Konsep badan besar dan jiwa besar.

Cinta sejati atau cinta karena materi,

Konsep perang dan damai, dll.

Jika Anda menonton film ini bersama anak-anak,

mungkin bisa dijadikan momen ini sekaligus sebagai bahan diskusi motivasi atau pemberdayaan anak.Tanyakan mereka apa hilkmah fim ini, dan bahas bersama mereka.

(Lakukan juga untuk semua film yang ditonton bersama keluarga).

Film ini sekaligus bagus buat pembelajaran buat sineas kita,

bagaimana mengangkat sebuah film klasik menjadi tontonan modern.

Indonesia juga punya banyak kisah klasik yang layak naik layar lebar,

tapi tantangannya seberapa kreatif kita bisa mengangkat itu

menjadi tontonan yang menarik, menghibur sekaligus mendidik.

Saya dan Adam memberi rate film ini sangat bagus, sedangkan Asma Nadia dan Salsa memberi rate film ini bagus.

Bagaimana menrurt Anda?

(NB: Untuk materi resensi film di komunitas bisa!, saya menyebut dengan istilah baru Movietivasi: Movie yang bisa memberi inspirasi dan motivasi)

Read more

0 Revolusi Pendidikan (jilid 1)

Isa Alamsyah

Entah kenapa saya merasa harus mengungkapkan kejengkelan saya terhadap materi pendidikan di Indonesia,

bahkan di dunia, karena kita jadi terpaksa ikut menyesuaikannya.

Pendidikan nampaknya harus direvolusi.

Betapa anak-anak menderita stres dengan pelajaran yang di masa depan mungkin tidak bermanfaat sama sekali.

Mereka kadang diangggap bodoh, kurang berpendidikan hanya karena gagal di sekolah.

Semua terjadi karena sekolah menjadi indikator pendidikan,

padahal di sekolah banyak pelajaran yang tidak penting yang dipaksakan untuk dipelajari.

Seharusnya pendidikan tidak selalu identik dengan sekolah,

dan idealnya sekolah bukan satu-satunya yang berhak menilai kadar terdidik atau tidaknya seseorang.

Ilmu dibagi menjadi dua, ilmu murni dan ilmu terapan.

Ilmu murni berarti ilmu untuk ilmu itu sendiri, jadi manfaatnya nanti dulu,

sedangkan ilmu terapan berarti mencakup manfaat ilmu untuk kehidupan.

Karena ada dua sifat tersebut maka dalam pendidikan juga harus dibagi menjadi dua,

ilmu murni karena tidak langsung bermanfaat maka sifatnya bagi siswa HANYA SEKEDAR TAHU.

Jadi tugasnya hanya untuk MEMANCING MINAT untuk ke tingkat yang lebih tinggi.

Karena itu ilmu ini tidak boleh dibebankan ke dalam test.

Kalau ada yang berminat baru ikut penjurusan.

Sedangkan ilmu terapan harus difahami dipraktekkan dan menjadi bekal kehidupan.

Contohnya sederhana.

Ada anak Indonesia, yang berbicara dengan bahasa Indonesia, bermain dengan bahasa Indonesia,

tetapi tidak lulus pelajaran Bahasa Indonesia. Itu aneh, karena esensi bahasa adalah komunikasi.

Bagaimana mungkin kita tidak lulus bahasa Indonesia cuma karena tidak mengerti konsep SPOK, SP, kalimat majemuk, KV, KVK, KKVK, dll, padahal sehari-hari kita berbicara bahasa Indonesia.

Yang bodoh siapa?

Si anak yang lancar berbahasa bahasa Indonesia tapi tidak tahu konsep anak kalimat, kalimat majemuk, dll,

tapi tahu cara memakainya dengan benar,

atau penilai yang mementingkan teori anak kalimat, kalimat majemuk bertingkat dsb, yang bahkan tidak peduli anak-anak tersebut hidup dengan bahasa tersebut dan berkomunikasi dengan bahasa tersebut.

Ini sama saja dengan tidak memberi sertifikat renang pada ikan hiu karena ikan hiu tersebut gagal menjelaskan gaya renang apa yang dipakainya.

Menurut saya, pengetahuan SPOK, kalimat majemuk, dan teori bahasa hanya ditempatkan sebagai ilmu yang perlu diketahui tapi tidak boleh masuk dalam test.

Kalau siswa tidak suka ya sudah jangan dipaksakan, toh tidak terlalu bermanfaat dalam kehidupan.

Lucunya ada anak yang bunuh diri akibat UAN bahasa Indonesianya hancur. Padahal ia menulis surat bunuh diri dalam bahasa Indonesia. Tragis.

Apa yang penting dalam bahasa?

Anak perlu diajar kemampuan menulis.

Kemampuan menyampaikan ide secara tulisan.

Itu yang penting, dan banyak penulis handal yang tidak ngerti SPOK tapi jadi penulis sukses.

Parahnya di daerah anak-anak dibebankan lagi bahasa daerah, please deh.

Cukup bahasa persatuan dan bahasa Internasional.

Coba lihat pelajaran biologi.

Ada SD diajar tentang organ kodok, jenis jaringan tumbuhan, dsb.

Tapi lulus SD mereka tidak mengerti banyak hal yang bermanfaat untuk kehidupan misalnya, survivor (tahu mana pohon yang beracun mana yang tidak kalau terdampar), tahu bagaimana mengatasi gas beracun, P3K.

Mereka tidak tahu betapa bahayanya rokok, bagaimana menghindari narkoba, apa ciri-ciri narkoba,

bagaimana mengatasi demam berdarah, bagaimana penanggulangan dini kalau ada korban luka bakar.

Ini justru penting bagi kehidupan.

Mereka tidak mengerti bagaimana memasak beras agar tidak terbuang vitamin B nya

Mereka tidak tahu kalau susu jangan dicampur air panas karena kalsiumnya rusak, dll.

Yang justru penting untuk kehidupan tapi tidak diajarkan.

Kalau masalah kodok, tikus dan sebagainya hanya untuk memancing minat yang proporsinya hanya sekedar memancing minat saja bukan membebani.

Sedangkan yang bermanfaat untuk kehidupan harus dikuasai.

Anak anak juga diajar tentang planet. Mereka tahu jumlah planet, nama planet dan ukuran planet.

Tapi mereka tidak diberi pelajaran tentang global warming, cinta lingkungan, dll yang justru berkaitan dengan kehidupan. Mereka juga tidak ada pelajaran persiapan bencana tsunami dan gempa dalam kurikulum.

Justru ilmu yang penting ini diberikan oleh pengajar tamu dari PBB (United Nation) dan NGO internasional yang tentu saja tidak menyentuh semua siswa dan bersifat berkala saja.

Tapi urusan planet di tata surya yang kita tidak tahun tahun berapa akan bermanfaat, semua siswa wajib menghapal.

Kalau sekedar minat, ya ajak nonton bareng film tata surya, mereka yang berminat akan memutuskan ke jenjang antariksa.

Kita mungkin butuh beberapa ratus ahli antariksawan, mungkin beberapa ribu,

tapi tidak perlu puluhan juta anak harus menguasainya bukan?

Kalaupun ada yang perlu diketahui dari antariksa adalah justru kemampuan menentukan arah kompas, ini malah tidak diajarkan (tidak didalami). Masih banayak anak tidak tahu mana utara, selatang, tenggara, dsb.

Intinya, kita cuma butuh beberapa ribu ahli fisika.

Kita cuma butuh beberapa ribu ahli linguistik

Cuma butuh beberapa ahli biologi, dll.

Tetapi kenapa ratusan juta anak wajib mempelajarinya, dan stress karenanya.

Kalau orientasi kita rubah dengan pelajaran yang faktual, actual dan selektif,

sedangkan bangsa lain masih terbelenggu dengan pendidikan simbolis dan konvensional,

maka kita akan menyusul bangsa lain.

Kita perlu mendefinisikan ulang materi pelajaran.

MANA YANG CUMA SEKEDAR PENGETAHUAN dan MANA YANG HARUS DIKUASAI.

Memang untuk beberapa anak yang mau melanjutkan ke LN jadi susah.

Ya sudah di drill saja 6 bulan menjelang ke sana kekejar koq!

Kepada anak-anak saya tidak memaksa mereka belajar.

Yang penting mereka berkarya.

Apalagi dengan adalnya UAN.

6 tahun mati-matian akan sia-sia hanya dengan kegagalan test 3 hari. Sialnya pas test jatuh sakit.

Lebih baik 5 1/2 tahun bahagia, 1/2 tahun siapkan UAN mati-matian.

Seharusnya penjurusan di mulai di SMP saja, jangan di SMA nanti terlalu banyak hal yang tidak penting dipelajari lagi.

Jadi anak lulus SMA sudah produktif.

Dan penjurusan jangan sekedar Fisika, Biologi dan sosial.

Kini harus di tambah Teknologi Informasi.

Buat praktisi IT sebanyak-banyaknya karena segala hal bisa dipermudah dengan IT.

Korupsi biaya tinggi, penyelewengan pajak, pengajaran online, dll bisa dibantu IT.

Jika IT maju pemilu tidak perlu sensus, kartu baru dsb. Cukup KTP Smart yang mempunyai data digital.

Banyak orang saat ini bekerja dengan membuang katakanlah 80 - 90% pelajaran yang tidak ada manfaatnya.

Siilahkan hitung sendiri.

Apakah pelajaran PSPB, IPBA, Sastra, dll sangat berpengaruh dengan pekerjaan Anda sekarang.

Coba ingat ingat semua pelajaran kita, mana yang bermanfaat?

Saya mendidik anak-anak lebih pada orientasi ilmu bermanfaat dan karya.

Salsa dan Adam anak saya yang SD sudah bisa photo shop.

Saya bilang ke mereka. Dengan satu keahlian ini saja kamu sudah bisa menghasilkan uang puluhan juta per bulan,

separti om ini, ini, dan ini saya menyebutkan nama desiner grafis yang mereka kenal..

Salsa sudah menulis 5 buku, Adam menulis 2 buku.

Saya bilang ke mereka, dengan kemampuan ini saja, kamu bisa berpenghasilan puluhan juta per bulan,

seperti ini, ini, dan ini... nama-nama penulis.

Salsa dan Adam kini suka internet. Saya bilang, kalau kamu dalami internet kamu bisa jadi orang terkaya di dunia.

Mereka juga mendalami, olah raga dan musik.

Kalau Salsa atau Adam pulang dengan nilai ujian jelak atau bagus.

Maka saya check kesalahannya.

Kadang saya bilang "Ini pertanyaan penting, kamu harus tahu jawabannya"

Kadang saya bilang "Wah kalau soal ini gak apa salah, nanti juga gak kepakai dalam kehidupan.

Ayah udah puluhan tahun hidup gak pernah pakai pengetahuan ini (saat itu soalnya tentang kota ini lintang berapa derajat bla..bla..bla) saya bilang gak usah hapalin lintang derajat begini, cari yang lebih bermanfaat.

Mungkin saya seperti orang tua ngaco, ya kan?

Tapi itu cara saya mendidik anak untuk menseleksi ilmu.

Saya gak mau anak-anak stres untuk pengetahuan yang menurut saya tidak penting.

Tapi saya juga menantang mereka belajar efektif. Dengan waktu belajar sedikit tapi hasilnya memuaskan.

Kita kembangkan beberapa metode, intinya tangkap semua pelajaran di sekolah, perhatikan, tidak tahu tanya, lalu ulang dirumah, presentasi, dsb.

Alhamdulillah Salsa dan Adam sejauh ini selalu mendapat ranking atas sekalipun belajar banyak hal lain di luar sekolah.

Ya sudah, entah kenapa saya lagi marah dengan pendidikan yang membebankan banyak ilmu yang tidak bermanfaat.

Just an idea (Tulisan ini ada di notes saya sejak Oktober 2010 lalu)

Tapi saya akan melakukan riset dan gerakan serius untuk merevolusi pendidikan!

Just wait and see.

Bayangkan kita mau ke medan perang.

Ada dua kelompok orang yang mau direkrut.

Satu ilmuwan yang tahu berbagai nama senapan, tahu jarak tembak senapan tahu bahan baku senapan,

mereka hapal senapan tersebut ditemukan oleh siapa, tahun berapa, dll.

Tapi dia tidak bisa menembak, tidak bisa menggunakan senjata.

Kelompok kedua adalah kelompok pemuda. Mereka tidak tahu siapa pembuat senapan, tidak tahu tahun berapa dibuatnya.

Mereka tidak bisa menjabarkan alasan kenapa peluru bisa meluncur.

Tapi mereka tahu bagaimana menembak, merakit senapan, merawat dan menggunakannya.

Kira-kira kelompok mana yang kita bawa ikut perang?

Nah generasi kita ke depan menghadapi banyak medan petempuran di bidang ekonomi, teknologi, informasi, dll,

kalau mereka dicekoki sesuatu yang tidak bermanfaat di masa depan, bisa jadi kita akan kalah perang.

Bagaimana menurut Anda?

Anatole France:

The whole art of teaching is only the art of awakening the natural curiosity of young minds for the purpose of satisfying it afterwards

Johann Wolfgang von Goethe: Correction does much, but encouragement does more.

John Dewey:

The aim of education is to enable individuals to continue their education ... (and) the object and reward of learning is continued capacity for growth. Now this idea cannot be applied to all the members of a society except where intercourse of man with man is mutual, and except where there is adequate provision for the reconstruction of social habits and institutions by means of wide stimulation arising from equitably distributed interests. And this means a democratic society.

Robert Fulghum: All I really need to know ... I learned in kindergarten.

St. Francis Xavier:

Give me the children until they are seven and anyone may have them afterward.

Roger Lewin:

Too often we give our children answers to remember rather than problems to solve.

Read more

0 Bagaimana membuat anak bisa membaca di usia 4 tahunan sebelum masuk TK, tanpa paksaan.

Isa Alamsyah

Seingat saya di tahun 90-an saya pernah baca berita di koran tentang pejabat Departemen Pendidikan yang melarang anak-anak diajar membaca ketika TK. Alasannya karena membaca adalah pelajaran anak SD dan anak TK tidak boleh stres belajar membaca. Kata sang penjabat saat itu, rencanaya akan dibuat peraturan tersebut, tapi saya tidak tahu apakah ini sudah masuk dalam peraturan atau tidak.

Lalu apa komentar saya tentang pendapat ini atau mungkin peraturan ini?

Cuma dua kata BIG MISTAKE! atau KESALAHAN BESAR!

Saya sangat tidak setuju kalau ada yang mengatakan anak-anak batita atau balita jangan diajar membaca.Bahkan saya menganjurkan untuk mengajarkan batita atau balita membaca sejak dini, kalau perlu sejak dilahirkan,

bahkan kalau perlu sejak masih di dalam kandungan.

Kenapa?

Karena masa 2 tahun pertama adalah masa perkembangan otak paling utama.

Sekitar 50% perkembangan otak dimulai pada 2 tahun pertama. Karena itu dua tahun pertama disebut sebagai Golden Age atau masa keemasan pembentukan otak,

sehingga jika dirangsang dengan tepat maka akan sangat baik untuk anak.

Termasuk salah satunya pengenalan pada membaca.

Pendidikan pada anak balita atau batita, harus memenuhi sifat-sifat:Syarat pertama adalah tidak boleh pasang target karena target akan membebani anak dan membuat stress (Nah kalau ada TK yang mematok anak harus bisa baca ketika selesai TK) ini baru bisa jadi masalah, nanti anak dibebani. Peraturan pemerintah harus menyentuh unsur ini: tidak boleh memaksakan tapi bukan unsur: tidak boleh mengajarkan.

Syarat Kedua adalah bersifat alami. Kita harus sekreatif mungkin membangun atmosfir pendidikan, seolah-olah anak tidak dalam suasana belajar. Ketika kita ngobrol dengan anak sebenarnya itu adalah pelajaran bahasa, ketika kita menonton program TV anak sebenarnya kita sedang mengajar anak sesuai materi TV-nya.

Syarat Ketiga adalah bersifat fun. Bagi anak bermain adalah belajar, jadi kita harus sekreatif mungkin menemukan cara agar anak-anak bisa bermain, having fun, padahal mereka tanpasa sadar sedang belajar.

Lalu pertanyaannya:

Bagaimana membuat anak belajar membaca tanpa merasa belajar membaca?

Bagaimana membuat anak bisa membaca padahal belum masuk TK?

Bagaimana membuat anak cinta membaca?

Bagaimana membuat mereka bisa menulis di usia dini?

Di bawah ini adalah ide-ide sederhana yang bisa membantu orang tua untuk mencapainya.

Jika Anda rutin melakukannya saya tidak heran kalau anak Anda bisa baca diusia 4 tahunan sebelum masuk TK.

Silakan dicoba. (Ini hanya sekedar share apa yang kami lakukan terhadap Adam Putra Firdaus dan Putri Salsa, yang keduanya bisa baca di usia 4 tahunan sebelum masuk TK).

Rangsangan otak

Sebelum memulai membaca artikel ini,

Anda harus percaya dahulu bahwa otak anak (sebagaimana otak manusia) mempunyai kemampuan yang luar biasa.

Karena itu jangan takut untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan pada anak, bahkan ketika masih bayi.

Jangan takut bahwa kapasitasnya otaknya akan penuh karena dicekoki berbagai ilmu,

karena otak akan tetap bisa menampung.

Bahkan sangat dianjurkan untuk memberi rangsangan sebanyakbanyaknya pada otak bayi saat golden age

di masa pertumbuhan otak.

Yang penting dalam pendidikan balita adalah jangan dipaksa, jangan dibebani, jangan dijadikan kewajiban.

Kita hanya memberi, anggap saja satu arah, terserah bagaimana batita atau balita kita meresponnya.

Rangsangan Auditorial

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi di dalam kandungan pada usia tertentu sudah bisa mendengar.

Karena itu kita sudah bisa mulai merangsang pertumbuhan otak anak dengan pendekatan auditorial.

Sekalipun bayi kelihatannya tidak merespon, kita sudah boleh memulai bicara pada bayi dalam kandungan.

Pada tahap ini selain merangsang pertumbuhan anak, kita sudah mengenalkan konsep awal komunikasi pada anak.

Setelah bayi lahir, maka merangsang pertumbuhan otak anak dengan pendekatan auditorial harus tetap dilanjutkan.

Banyak yang menganjurkan musik klasik tertentu untuk merangsang kecerdasannya.

Jika orang tua ingin meningkatkan kecerdasan otak anak dan kecerdasan bahasa, maka ini yang harus dilakukan:

1. Selalu berbicara pada anak (sekalipun mereka belum bisa merespon tapi otaknya menyerap).

2. Setiap kali kita melakukan sesuatu pada bayi terangkan selalu hal yang berkaitan dengan tindakan kita tersebut. Jadikan itu semacam kurikulum bebas, variatif dan tidak mengikat. (terangkan kenapa mereka harus mandi, terangkan kenapa mereka pakai sabun, terangkan kenapa kita pakai pampers, terangkan kenapa harus minum susu, makan, dsb).

Setiap kata baru akan merangsang pertumbuhan fungsi otak, dan menambah kecerdasan bahasa.

3. Pilih topik yang berbeda beda (Misalnya ketika makan hari ini kita bicara tentang kenapa makan, besok bicara tentang makananya, besoknya bicara tentang piring, dsb)

4. Jangan pilih kata-kata sederhana (Seringkali kita menganggap remeh anak-anak sehingga selalu berusaha berbicara dengan bahasa sederhana, kalau saya anjurkan bicara saja seperti biasa, gunakan kata-kata yang rumit sekalipun, nanti mereka akan menyesuaikan

5. Menyanyi juga membantu meningkatkan kemampuan bahasa sekaligus jiwa seni anak.

Semua prpgram di atas akan meingkatkan kemampuan bahasa dan meningkatkan kecerdasan otak anak secara luar biasa.

Rangsangan Visual

Untuk mengenalkan bayi (1-3 tahun) pada huruf tanpa bayi tersebut merasa sedang diajar, ada beberapa trik,

di antaranya:

Pasang poster-poster huruf di rumah kita (boleh juga poster lain untuk merangsang otaknya). Kalau perlu di kamar, di dapur, di ruang tamu, di mana-mana. Di bagian rumah yang anak-anak sering lewat. Kalau ada balita, jangan terlalu peduli penampilan rumah, yang penting adalah merangsang otak anak. Buat balita, rumah yang kelihatan seperti TK jauh lebih baik dari rumah yang anggun rapih serba satu warna.

Untuk pelindung dari benturan ke tembok, pilih karet pelindung (bahan sandal) berwarna warni dengan motif huruf.

Bisa juga beli karpet untuk pelindung dilantai yang bermotif huruf.

Tempel magnet bermotif huruf di kulkas.

Gunakan kaos yang bermotif tulisan ketika meneggendong bayi.

Jika mereka sejak bangun, ketika makan, ketika digendong selalu berinteraksi dengan visual huruf, maka mereka sudah familiar dengan bentuk huruf, bahkan gambaran huruf masuk ke otak tak sadarnya, sehingga visual huruf menjadi lebih seperti naluri ketimbang akademisi. Nanti ketika kita mulai mengenalkan huruf (misalnya usia 3-4 tahun), mereka dengan mudah ingat karena sudah sering melihatnya.

Karena sering melihat mereka lebih mudah hapal.

Karena mudah hapal mereka tidak stress mengenali huruf.Karena tidak stress mereka juga tidak anti membaca.

Rangsangan Kinestetik

Setelah anak mulai bisa berkomunikasi dan beraktivitas, maka kita sudah bisa mulai mengembangkan kemampuan berbahasa dengan permainan-permainan yang mulai melibatkan gerak.

Dengan permainan maka ada 4 unsur penting yang dilibatkan, otak (berpikir), visual, audotorial dan gerak.

Anak-anak punya banyak energi sehingga mereka senang melakukan banyak permainan yang bergerak.

Di bawah ini adalah beberapa contoh permainan untuk mengenali huruf dan bacaan:

Adu cepat menemukan huruf (Masukkan huruf dalam ember lalu berlomba menemukan huruf yang di minta.

Kalau anak cowok bisa lomba menembak huruf di poster.

Bisa juga huruf plastik didirikan lalu lomba melempar huruf batu kecil atau dishoot dengan kelereng (kalau sudah bisa).

Bisa juga adu cepat menyebutkan huruf (Kalau ada dua anak), kita ambil huruf plastik/ kayu dari basket dan setiap anak adu cepat menyebutkannya

Intinya anak berinteraksi dengan huruf.

Evaluasi dan pengembangan:Coba ketika jalan-jalan dengan anak-anak lihat reklame, minta mereka menyebutkan huruf-hurufnya.

Nanti mereka mulai mengenali huruf besar dan huruf kecil.Selanjutnya mulai padukan huruf yang mereka kenal manjadi bacaan.

Tahapan:Jika program di atas dijalankan, maka secara tak sadar anak sudah mengalami tahapan belajar tanpa merasa belajar dan having fun. Mereka mengalami tahapan:1. Mengenali bentuk huruf visual (sejak mulai melihat, dari poster, baju bermotif huruf, dan magnet huruf)

2. Mengenali nama huruf (s.d.a)

3. Mengenalii bunyi huruf (Boleh dimulai sejak kandungan).

4. Mengenali kombinasi huruf (Bertahap setelah mereka menguasai 3 hal di atas - ingat jangan paksakan).

5. Bisa membaca

Bukankah waktu 4 tahun jadi sangat panjang untuk anak bisa membaca jika kita memulainya sejak dini?Karena keterbatasan waktu dan space, maka hanya tip ini yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

Pendidikan pada balita atau batita, bukan belajarnya yang dilarang, tapi bagaimana menyampaikannya yang harus tepat.

Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More