• slide 1

    No Excuse! for Professional and Worker

    Jika Anda berhasil melepas hambatan excuse, produktivas kerja dan penghasilan akan berlipat ganda

  • slide 2

    Workshop Menulis

    Menulis membuat Anda mempunyai nilai lebih, membuat ide tidak mati dan abadi

  • slide 3

    No Excuse! for Education

    Raih hasil terbaik di dunia akademisi dengan menaklukkan segala excuse yang menghambat kesuksesan di dunia pendidikan

  • slide 4

    Buku dan Penerbitan

    Abadikan ide Anda. Ternyata membuat buku lebih mudah dari mengarang satu buah cerpen. Terbukti di sini.

  • slide 5

    Workshop Menulis Anak dan Remaja

    Kemampuan menulis akan sangat bermanfaat untuk masa depan anak-anak. Yang penting ditanamkan adalah kecintaan pada menulis dan dasar penulisan yang benar

  • slide 7

    Workshop dan Seminar Jurnalistik

    Jurnalisme bukan sekedar berita, informasi atau bacaan, tapi cara kita menjadi bagian perubahan dunia

  • slide nav 1

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya
  • slide nav 2

    Workshop Menulis

    Metode terkini, update, mudah diaplikasikan dan karya layak akan diterbitkan
  • slide nav 3

    No Excuse! for Education

    Pendidikan dengan semangat No Excuse! akan menjamin masa depan bangsa
  • slide nav 4

    Workshop Buat Buku

    Membangun semangat untuk minimal menghasilkan satu karya buku sebelum mati
  • slide nav 5

    Workshop Menulis Anak

    Menumbuhkan rasa cinta dan kemampuan membaca dan menulis sejak dini
  • slide nav 6

    Workshop Jurnalistik

    Membangun media sebagai salah satu pilar perubahan untuk masa depan lebih baik
  • slide nav 7

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya

Selamat Datang di Komunitas Bisa!

/*--------------------- menufs3 ateonsoft.com ------------------------*/ #menufs3-wrapper {width:100%; height:27px; background: #000000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3bg.gif') repeat-x top left; border-top:1px solid #333; padding-left:0px; margin-bottom:9px; overflow:hidden} #menufs3-wrapper h2 {display:none} #menufs3, #menufs3 ul {padding: 0px; margin: 0; list-style: none; font: normal 0.95em arial; color:#fff;} #menufs3 a {display: block;text-decoration: none; border-right: 1px solid #000; border-left: 1px solid #202020; color: #fff; background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3bg.gif') repeat-x top left;; padding-left:9px; padding-right:9px; padding-top:6px; padding-bottom:7px} #menufs3 a.awal {padding: 0px; border-left: 0px none;width: 90px; height:27px; background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3Awal.gif') no-repeat;} #menufs3 a.awal:hover{background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3Awalhvr.gif') no-repeat;} #menufs3 a.awal em {display:none;} #menufs3 a.IndukMenu {font-weight:bold; text-transform:uppercase;} #menufs3 a.akhir {padding: 0px; border-left: 0px none; border-right: 0px none; width: 27px; height:27px; background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3logoVisited.gif') no-repeat;} #menufs3 a.akhir:hover {background: #000 url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3logoHvr.gif') no-repeat;} #menufs3 a.akhir em {display:none;} #menufs3 li {float: left;width: 9em;} #menufs3 li.akhir{border-left: 1px solid #202020; height:27px; width: 1px; padding: 0px} #menufs3 li.akhir em{display:none;} #menufs3 li.kanan{float: right; border-left: 0px none;} #menufs3 li ul, #menufs3 ul li {width: 14em;} #menufs3 ul li a {color: #565656;border-left: 0px none; border-right: 0px none; padding-left:5px; padding-right:10px; padding-top:5px; padding-bottom:5px} #menufs3 li ul {position: absolute; display: none; background-color: #000000; z-index:200;border-right: 1px solid #141414; border-left: 1px solid #141414; border-bottom: 1px solid #141414; margin-left:-1px;text-align: left;} #menufs3 li:hover a, #menufs3 a:focus, #menufs3 a:active{color: #ffff00; background-color: #000; background-image:url('http://www.geocities.com/f_415_47/HMenuImage/menufs3hvr.gif'); background-repeat:repeat-x} #menufs3 li:hover ul{display: block;} #menufs3 li:hover ul a{color: #fff; border-top:1px solid #141414; background-image:url('none');} #menufs3 ul a:hover {background-color: #202020!important;color: #ffff00!important;} #menufs3 li {width: auto;}

Delete this element to display blogger navbar

Showing posts with label Inspirativasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirativasi. Show all posts

0 Kegagalan Bill Gates

by Isa Alamsyah

Bill Gates adalah orang terkaya di dunia selama 14 tahun berturut-turut. Kekayaannya pada tahun 2009 mencapai US $ 58 milyar atau lebih besar dari cadangan devisa negara Indonesia.

Apakah ia tidak pernah gagal?
Banyak orang bicara tentang keberhasilannya, padahal ia juga mengalami banyak kegagalan di antaranya :

Pada tahun 1998 - 2001 Gates meluncurkan Auto PC untuk merevolusi hiburan dalam mobil. Namun mobil-mobil sudah dilengkapi dengan berbagai macam CD-player, GPS, dsb, produknya tidak diminati.

Pada 1995 - 1996 Gates meluncurkan Program Bob namun sayangnya program tersebut membutuhkan kinerja lebih banyak dari yang dimiliki kebanyakan komputer yang ada saat itu dan pasar tidak menerima.

Pada tahun 1991, Gates merancang program Cairo, dan setelah menghabiskan uang dan waktu, akhirnya Cairo dibatalkan.

Gates membuat sebuah toko musik online MSN Music pada 2004, gagal lalu dibuat lagi URGE pada 2006 juga gagal.

Program Origami / UMPC yang dirilis pada 2006 juga gagal di pasaran.
Program Windows Vista (2007) dan Windows ME (2000) juga gagal di pasaran.
Pengembangan OS/2 dari 1987 - 2006 akhirnya batal.
(Dikutup dari buku : Jangan Takut Gagal!)

Hikmah :
Bill Gates menunjukkan, orang yang berkali-kali gagal saja bisa menjadi orang terkaya di dunia.

Gagal dan sukses kadang berjalan secara pararel.
Kita bisa mengalami kegagalan dan keberhasilan dalam waktu yang sama.
Yang membuat Bill Gates menjadi terkaya di dunia bukan karena tidak pernah gagal, ia juga banyak mengalami kegagalan, tetapi ia punya keberhasilan juga yang lebih banyak di proyek lain.
Jika kita menumpukan penghasilan pada satu bidang, ketika gagal maka kita habis.
Pegawai yang mengandalkan penghasilan hanya dari pekerjaannya saja ketika dipecat langsung bingung.
Pengusaha yang cuma mengandalkan satu usaha saja juga frustasi begitu gagal.

Jangan takut gagal, karena itu proses.

Baca kisah menarik lainnya di buku Jangan Takut Gagal : By Isa
(Dikutip dari buku : Jangan Takut Gagal!)
Read more

0 Tersiksa Ferary

Isa Alamsyah

Waktu itu ipar saya ingin menjual peralatan musik ke satu orang yang kaya raya di Jakarta Selatan. Rumahnya besar bahkan ada lift nya.
Di garasinya ada sebuah mobil Ferary mewah yang mentereng.
Lucunya orang kaya itu begitu takut Ferary-nya tergores sampai tidak boleh ada satu orang pun boleh mendekat bahkan sekedar jalan disampingnya.
Bahkan si orang kaya tersebut marah pada kerabat atau tamu yang berkunjung ke rumahnya dan berjalan dekat dengan Ferary-nya.
Menurut pembantunya, si kaya keberatan jika ada uap nafas orang yang mendekat dan memandang mobilnya dari dekat.
Pertanyaannya buat apa dia punya Ferary kalau itu tidak membuatnya bahagia, tapi justru membuatnya stres.
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil.
Pertama, si kaya membuat dirinya menjaga harta bukan harta menjaga dirinya. Orang seperti ini, semakin kaya semakin menderita. Ini yang disebut Ali Bin Abi Thalib lebih baik ilmu dari harta. Ilmu menjaga diri kita kita menjaga harta kita.
Kedua, ini menujukkan si kaya belum pantas punya Ferary. Dia pantas punya Ferary kalau dia bahagia punya Ferary dan tidak memaksakan diri untuk membelinya, dan bisa santai sekalipun terjadi apa-apa pada Ferary-nya.
Bagaimana dengan Anda?
Apakah Anda mempunyai barang yang sebenarnya belum pantas memilikinya?
Barang yang Anda paksakan diri untuk membelinya, dan stres merawatnya, karena itu terlalu mahal buat Anda?
Kita pantas memiliki suatu benda jika benda itu memberi kebahagiaan dan bukan stress.
Pada level kecil benda yang membuat kita menjadi budak bisa berupa handphobe, BB, perhiasan, mainan, dsb.
Jadi yang membuat kita pantas atau tidak memiliki atau membeli barang bukan harganya tetapi seberapa barang tersebut membuat kita bahagia atau stres.
Seberapa benda itu memberi nilai tambah buat kita bukan sebaliknya.
Jika kita membeli barang dengan memaksakan diri dan barang tersebut membuat kita stres mengkhawatirkannya maka sebenarnya itu belum waktunya kita mempunyai barang itu.
Apakah Anda pernah mengalaminya?
Read more

0 Itu bukan masalahku

Isa Alamsyah

Seekor tikus panik melihat petani menyiapkan beberapa jebakan tikus di sawah.

Ia begitu ketakutan dan segera berbegas mencari bantuan. Saat bertemu ayam ia bercerita.

"Pak Tani memasang jebakan tikus, saya harus bagaimana?" tanyanya pada Ayam.

"Wah itu bukan urusanku, mana aku tahu. Uruslah urusan masing-masing" jawab Ayam acuh.

Tikus masih ketakutan ia datang menemui kambing.

"Pak Tani memasang jebakan tikus, saya harus bagaimana?" tanyanya pada kambing.

"Bukankah benda itu dinamakan 'jebakan tikus.' Jadi apa urusannya denganku. Kalau itu jebakan kambing baru aku boleh khawatir," jawab kambing seenaknya.

Tikus tetap ketakutan, tapi masih ada harapan, ia pergi menemui sapi.

"Pak Tani memasang jebakan tikus, saya harus bagaimana?" tanyanya pada sapi.

"Hah jebakan tikus. Itu benda yang kecil sekali, Tidak ada pengaruhnya buat aku. Kenapa aku harus pikirkan." jawab Sapi sinis.

Tikus benar-benar sedih, nampaknya benar-benar tidak ada yang mempedulikannya.

Apalagi memang ayam, kambing dan sapi adalah peliharaan pak tani, sedangkan dia adalah buruannya pak tani.

Malam itu tikus tidur semalaman, ia tidak berani mencari makan karena takut terkena jebakan tikus.

Subuh dini hari ketika hari masih gelap, Pak tani dan istrinya sepeti biasa pergi ke sawah.

Mereka juga melihat apa jebakan tikus yang dipasang sudah berhasil menangkap tikus.

Karena subuh masih sangat gelap, tanpa sengaja istri Pak tani memegang jebakan tikus yang ternyata menjepit ular berbisa. Ular tersebut sempat mematok istri Pak tani hingga terkena racun berbisa.

Istri Pak tani langsung di bawa ke dokter.

Karena tak sanggup membayar dokter, pak tani menyembelih ayamnya dan menjual dagingnya untuk membayar biaya dokter.

Ternyata perawatan dokter saja tidak cukup untuk mengatasi bisa yang berbahaya ini. Maka terpaksa pak tani membawa istrinya masuk ke rumah sakit.

Uang muka masuk rumah sakit cukup mahal. Pak tani terpaksa menyembelih kambingnya dan menjual dagingya ke pasar untuk menutupi uang muka ke rumah sakit.

Ternyata biaya perawatannya sangat mahal. Perlu perawatan khusus untuk mengatasinya.

Pak tani akhirnya terpaksa menyembeli sapinya dan menjual dagingnya untuk membayar biaya perawatan.

Begitulah akhir kisah jebakan tikus.

Sapi, kambing dan ayam tidak pernah menduga jebakan tikus yang diacuhkannya justru membuat mereka disembelih lebih cepat.

Apa hikmahnya?

Seringkali kita menganggap masalah orang lain bukan masalah kita.

Masalah lingkungan bukan masalah kita.

Padahal jika kita telusuri bisa jadi masalah tersebut akan mempengaruhi hidup kita juga, atau mungkin keluarga kita.

Ada teman atau kerabat kita terlibat narkoba kita biarkan karena itu urusan dia sendiri.

Tapi ternyata kita jadi korban karena barang-barang kita dicuri untuk membeli narkoba.

Lebih buruk lagi anak kita ikut menjadi candu narkoba akibat perbuatannya.

Kita membuang sampah sembarangan, akibatnya terjadi banjir yang salah satunya akibat sampah yang kita buang.

Kalaupun kita tidak jadi korban banjirnya, kita jadi korban macetnya.

Karena itu jangan terlalu mudah mengabaikan masalah, karena mungkin kita jadi korbannya.

Read more

0 Telur Kura-Kura

Telur kura-kura

Isa Alamsyah

Di sebuah hutan, ada seekor kura-kura yang sangat kelelahan karena baru saja bertelur.

Rasanya ia ingin makan enak, tapi ia tidak ingin meninggalkan telur-telurnya tanpa penjagaan.

Lalu sang kura-kura pergi menemui temannya seekor kuda dan memintanya untuk menjaga telur-telurnya karena ia ingin pergi mencari makan. Ia mewanti-wanti sang kuda untuk menjaga baik-baik telurnya dan kuda pun setuju.

Di sungai kura-kura melihat anak-anak udang berenang-renang sangat menggiurkan.

Tentu saja ini merupakan santapan yang enak, pikirnya dalam hati.

Kura kura berenang mendekat siap menyantap udang...

Tiba-tiba...dung...dung....dung....

Sebuah genderang perang terdengar di seluruh hutan.

Mendengar genderang perang, kuda langsung mengambi posisi berdiri tegap siap pada posisi tempur.

Tanpa sengaja sang kuda menginjak telur-telur kura-kura dan memecahkan semuanya.

Kura-kura yang panik mendengar genderang perang juga segera kembali untuk menjaga ke telur-telurnya.

Tapi betapa sedih ia melihat telur-telurnya hancur. Apalagi ternyata tidak ada perang.

Ia marah pada kuda yang tidak menjaga telurnya dan melaporkan masalah ini pada raja hutan.

Raja bertanya kepada kuda kenapa ia menghancurkan telur kura kura.

"Aku tidak sengaja, karena ada genderang perang yang ditabuh monyet aku langsung berdiri siap, menghentak-hentakkan kaki, dan mengambil posisi siap tempur" kata kuda menjelaskan.

"Berarti ini dipicu oleh genderang perang yang ditabuh monyet. Segera panggil monyet," titah raja.

Setelah monyet datang, raja bertanya kepada monyet kenapa ia memukul genderang perang.

"Aku memukul genderang perang karena melihat gajah-gajah mengasah gading mereka bersiap untuk perang," jawab monyet.

"Berarti ini dipicu oleh aktivitas gajah mengasah gading mereka. Segera panggil gajah," titah raja.

Setelah gajah datang, raja bertanya kepada gajah kenapa ia mengasah gading bersiap untuk perang.

"Aku mengasah gading karena melihat badak mempertajam cula mereka untuk perang," jawab gajah.

"Berarti ini dipicu oleh aktivitas badak mempertajam cula mereka. Segera panggil badak," titah raja.

Setelah badak datang, raja bertanya kepada badak kenapa ia mempertajam culanya untuk bersiap perang.

"Aku mempertajam cula karena melihat beruang mengasah cakar dan giginya untuk bersiap perang," jawab badak.

"Berarti ini dipicu oleh aktivitas beruang mengasah gigi dan cakarnya. Segera panggil beruang," titah raja.

Setelah beruang datang, raja bertanya kepada beruang kenapa ia mengasah gigi dan taringnya untuk bersiap perang.

"Aku melakukannya karena ketika berada di sungai aku melihat para udang bersiap dengan tanduk mereka pada posisi siap tempur, " jawab beruang.

"Berarti ini dipicu oleh aktivitas udang yang bersiap dengan posisi tempur dengan tanduknya, segera panggil udang," titah raja.

Setelah udang datang, raja bertanya kepada udang kenapa mereka menyiapkan tanduk mereka pada posisi siap tempur sehingga memicu semua masalah.

"Tentu saja kami dalam posisi tempur. Karena kami melihat ada kura-kura datang dan terlihat sangat ingin menerkam anak-anak kami yang sedang bermain, " jawab udang membela diri.

"Berarti ini dipicu oleh kura-kura yang bersiap memakan anak-anak udang," kata raja menyimpulkan.

Raja kemudian menengok pada kura-kura yang melaporkan kasus pecahnya telurnya.

"Apakah benar kamu kura-kura bersiap memakan anak-anak udang?" tanya raja ke kura-kura untuk memastikan.

"Betul tuan raja, saya memang berniat memakan anak-anak udang," jawab sang kura kura menyesal.

"Akhirnya kita bisa lihat bagaimana kejadian ini bermula, ternyata semua ini bermula dari kamu sendiri!" seru raja memutuskan.

Kura-kura pun berlalu, menyesali tindakannya yang memicu semua peristiwa yang mengakibatkan telurnya hancur.

Apa hikmahnya?Kadang kita dengan mudah menyalahkan orang lain atas suatu peristiwa, padahal kita punya andil dalam kejadian tersebut.

Ada ayah yang marah karena anaknya menginjak piring makanannya yang diletakkan di lantai, padahal seharusnya piring tidak diletakkan di lantai.Ada orang tua marah pada anaknya yang malas belajar, padahal sejak kecil orang tua memberikan pola hidup yang memanjakan anak.

Ada bos yang marah karena anak buahnya tidak disiplin padahal ia sendiri sering mencontohkan datang terlambat.

Ada guru yang marah karena muridnya malas, padahal ia tidak mampu membangkitkan motivasi belajar.

Dan banyak lagi contoh kejadian yang membuat kita marah padahal tanpa sadar kita juga ikut andil menyebabkannya.Apakah Anda punya contoh tambahan?Ada pengalaman pribadi?

Read more

0 "Diam itu emas," falsafah berbahaya

Berkatalah yang baik, atau lebih baik diam, hati-hati memahaminya

Isa Alamsyah

Kemarin saya menulis status "Berkatalah yang baik, atau lebih baik diam" dan mendapatkan respon serta tanggapan positif beragam.

Salah satunya ada yang bertanya, Apakah ini berarti "Diam itu emas"?

Nah apakah Anda setuju diam itu emas?

Tentu saja tergantung keadaaan.

Kalau kita buat skor 0 - 3, diam itu skornya cuma antara 0 sampai 1 saja karena ada yang lebih tinggi nilainya dari diam yaitu berkata baik dan ada yang lebih tinggi dari berkata baik yaitu ACTION baik/ positif.

Yang lebih buruk dari diam adalah berkata buruk dan di bawah berkata buruk ada lagi yaitu action buruk.

kalau dibuat tabel mungkin bisa seperti ini

Level tertinggi skornya 3: Action (mengubah keadaan menjadi lebih baik dengan tangan atau perbuatan).

Level kedua tertinggi skornya 2: Suggesting/ warning (mengubah keadaan menjadi lebih baik dengan lisan).

Level kesatu skornya 1: Diam tapi dalam hati menyimpan amarah atau dendam positif untuk mengubah.

Level nol skornya 0: Diam sama sekali tidak ada reaksi, pasrah (iklas bukan pada tempatnya - iklas pada keburukan).

Level minus 1: Diam tapi hati diam tapi setuju dengan keburukan (pro keburukan).

Level minus 2: Menggunakan lisan untuk keburukan (Nah di level inilah kata kata "Berkatalah yang baik atau lebih baik diam" bisa diaplikasikan.

Level minus 3 (terndah): Berbuat buruk, mendukung keburukan atau menjadi agen keburukan.

Cukup jelas kan?

Nah bagaimana praktek di lapangan?

Apakah Anda pernah pergi ke Mal besar yang musholahnya kecil, terpencil sehingga sholat bersedak-desakan?Jika semua pengunjung diam tidak ada yang protes ke manajemen maka Mal tersebut tidak akan memperbaiki fasilitas musholah.

Tapi kalau setiap pengunjung setelah sholat komplain, minimal manajemen mal berpikir untuk memperbaiki fasilitas.

Sayangnya sebagian besar pengunjungan hanya diam. Diam seperti ini yang namanya iklas bukan pada tempatnya, sabar yang melenceng penerapannya.

Kadang juga ada status yang cukup menggugah di facebook.

Ramai orang berkomentar memberi dukungan dan semangat.

Tapi tiba-tiba ada yang berkomentar pedas atau memberi omongan jorok merusak suasana, nah ini termasuk yang "lebih baik tidak usah komentar daripada merusak suasana"

Bicara tanpa ilmu juga berbahaya.

Sudah dengar kejadian Miss Universe tutup account twitternya?

Dia bilang mari berdoa untuk Korea, semoga kedua negara di Cina ini bisa damai.

Dia dicaci karena tidak tahu Korea itu dua negara yang berbeda dan bukan di Cina.

Bayangkan hal baik saja bisa jadi masalah.

Miss Universe itu malu dan tutup twitternya.

Yang terpenting sekarang adalah, di mana Anda ingin menempatkan diri.

Ketika melihat keburukan Anda pilih diam, pasrah?

Atau pilih berbicara atau menulis untuk perbaikan?

Atau pilih action positif dengan power yang Anda punya?Jika diam itu emas, maka berbicara baik mungkin mutiara, dan action positif adalah DIAMOND.

Read more

0 MENUNGGU SEMPURNA

Isa Alamsyah



Pada sesi privat coaching penulisan buku,

beberapa klien selalu mengatakan bahwa bukunya tidak jadi-jadi karena belum sempurna.

Tulisannya tidak selesai selesai karena belum lengkap.

Saya katakan pada mereka,

jangan tunggu sempurna, karena tidak ada yang namanya sempurna.

Selalu ada cara lebih baik atas sesuatu.

Mungkin kita bilang buku kita sudah lengkap, sudah sempurna.

Tahun depan kita baca lagi akan kita temukan banyak kekurangan.

Jadi kalau mau menulis, ya tulis saja. Selesaikan.



Saya ingat banyak kenalan yang tidak mau pergi haji karena merasa belum siap.

Beberapa merasa belum sempurna ibadahnya.

Saya katakan, kalau menunggu sempurna,

maka ketika kita memutuskan haji saat itu kita sudah merasa sempurna,

dan ketika merasa sudah sempurna justru menunjukkan kita tidak sempurna.



Jadi, mulai saja, selesaikan saja.

Kalau mau mulai bisnis tunggu segalanya siap, bisa bisa gak mulai-mulai bisnis.

Kalau mau ikut lomba tunggu siap, bisa-bisa gak ikut lomba.



Langsung ACTION.

ACTION adalah jalan menuju ke kesempurnaan (baca: Perbaikan).

Bukan sebaliknya, menunggu kesempurnaaan baru ACTION.

Kalau tunggu sempurna bisa-bisa tidak pernah ACTION.

Apalagi KESEMPURNAAN hanya milik Allah SWT.
Read more

0 Menanti Roda Berputar

Isa Alamsyah

Pasti kejadian seperti ini pernah kamu dengar:Ada orang jahat menyakiti orang baik, lalu orang baik tidak melawan sekalipun jadi korban.Dalam hati ia berkata"Biarkan roda berputar, suatu saat dia akan di bawah kita di atas!"

Ada orang miskin bekerja tapi tetap miskin, dan tidak kaya-kaya.

Lalu ia melihat orang kaya dan bermimpi ingin kaya.

Dalam hati ia berkata"Biarkan roda berputar, suatu saat kita akan di atas"

Anda percaya itu?Buat Anda yang percaya bahwa roda akan berputar saya terpaksa mengingatkan bahwa itu salah satu OMONG KOSONG yang paling berbahaya.

Faktanya: Roda TIDAK selalu berputar. Ada kalanya roda DIAM.

Banyak sekali orang miskin yang mati miskin.

Orang bodoh tetap bodoh sampai mati.

Orang jadi korban dan jadi korban seumur hidupnya.

Umat direndahkan dan tetap direndahkan.

Sebaliknya ada orang yang lahir kaya dan sampai mati tetap kaya.

Kenapa? Karena roda TIDAK BERPUTAR.Kenapa tidak berputar?Karena tidak digerakkan. Roda yang di-rem tidak bisa bergerak.

jadi KITA yang harus menggerakan RODA nasib.

Jangan menunggu nasib berputar sendiri mengangkat kita ke atas, padahal kita tidak melakukan apa-apa.

Ingat kan Indonesia dijajah ratusan tahu?Berarti ada generasi yang dari lahir sampai mati tidak tahu rasanya merdeka.

Rodanya di bawah terus.

Ayo luruskan?Yang benar bukan roda berputar tapi roda bisa berputar dan bisa diam, dan kita yang memutuskannya akan menggerakkannya atau tetap diam di bawah.

Nah, pasti percaya roda berputar?

Read more

0 Menanti Roda Berputar

Isa Alamsyah

Pasti kejadian seperti ini pernah kamu dengar:Ada orang jahat menyakiti orang baik, lalu orang baik tidak melawan sekalipun jadi korban.Dalam hati ia berkata"Biarkan roda berputar, suatu saat dia akan di bawah kita di atas!"

Ada orang miskin bekerja tapi tetap miskin, dan tidak kaya-kaya.

Lalu ia melihat orang kaya dan bermimpi ingin kaya.

Dalam hati ia berkata"Biarkan roda berputar, suatu saat kita akan di atas"

Anda percaya itu?Buat Anda yang percaya bahwa roda akan berputar saya terpaksa mengingatkan bahwa itu salah satu OMONG KOSONG yang paling berbahaya.

Faktanya: Roda TIDAK selalu berputar. Ada kalanya roda DIAM.

Banyak sekali orang miskin yang mati miskin.

Orang bodoh tetap bodoh sampai mati.

Orang jadi korban dan jadi korban seumur hidupnya.

Umat direndahkan dan tetap direndahkan.

Sebaliknya ada orang yang lahir kaya dan sampai mati tetap kaya.

Kenapa? Karena roda TIDAK BERPUTAR.Kenapa tidak berputar?Karena tidak digerakkan. Roda yang di-rem tidak bisa bergerak.

jadi KITA yang harus menggerakan RODA nasib.

Jangan menunggu nasib berputar sendiri mengangkat kita ke atas, padahal kita tidak melakukan apa-apa.

Ingat kan Indonesia dijajah ratusan tahu?Berarti ada generasi yang dari lahir sampai mati tidak tahu rasanya merdeka.

Rodanya di bawah terus.

Ayo luruskan?Yang benar bukan roda berputar tapi roda bisa berputar dan bisa diam, dan kita yang memutuskannya akan menggerakkannya atau tetap diam di bawah.

Nah, pasti percaya roda berputar?

Read more

0 Temukan cara untuk menaklukkan karakter atau sifat buruk

Isa Alamsyah

dikutip dari buku No Excuse! halaman 99

"I was very very shy as a younger girl, just petrified of people. Tennis helped give me an identity and made me feel like somebody."Saya sangat pemalu saat kecil, tidak berani ketemu orang.Tenis membantu saya menemukan identitas dan menjadi seseorang.Chris Evert, Petenis

"I never felt comfortable with myself, because I was never part of the majority. I always felt awkward and shy."Saya tidak pernah merasa nyaman dengan diri saya, karena saya tidak pernah menjadi bagian dari mayoritas. Saya selalu merasa kikuk dan malu.Steven Spielberg, Sutradara

Setiap orang punya karakter yang unik, dan selalu saja ada ada hal baik yang menonjol dalam diri sebaliknya ada karakter buruk juga dalam diri.

Tugas kita mengoptimalkan potensi baik dan mengeliminasi seminim mungkin karakter buruk.

Setiap orang punya cara berbeda-beda untuk menaklukkan sifat atau karakter buruknya.

Yang terpenting, kita sepakat dahulu bahwa karakter tersebut harus diminimalisir, setelah itu baru temukan caranya. Hanya kita sendiri yang paling bisa menemukan jawabannya.

Chris Evert menemukan tenis sebagai caranya untuk menjadi seseorang dan membangkitkan kepercayaan dirinya.

Steven Spielberg, mengatasi rasa tidak nyaman sebagai minoritas Yahudi di Amerika dengan menunjukkan eksistensinya dengan berkarya melalui cameranya.

Sekarang saatnya Anda temukan apa kekurangan diri sendiri, lalu temukan kegiatan atau aktivitas yang membuat bisa melupakan atau menghilangkannya.

Semakin banyak cara yang ditemukan, semakin dekat Anda dengan kesuksesan.

Read more

0 Yang penting usaha bukan hasil, bijak tapi menyesatkan

Yang penting usaha bukan hasil, bijak tapi menyesatkan.

Isa Alamsyah

Beberapa hari lalu saya memasang status:

"Yang penting usaha bukan hasil, kelihatannya bijak tapi menyesatkan.

Itu berlaku dalam penilaian Tuhan, tapi antar manusia ini bisa membuat Anda kehilangan klien,

kerjaan, pelanggan, dsb. Menurut Anda?" Sebelum saya memasang status ini, saya tahu pasti akan ada perdebatan,

tapi toh saya pasang juga karena justru diskusinyalah yang perlu ditumbuhkan.

Seringkali kita dengar kalimat seperti ini:"Jangan hanya lihat hasil, tapi lihatlah proses"

"Proses juga harus dihargai, jangan hasilnya saja"

"Yang penting usaha, hasilnya Tuhan yang menentukan"

Bagaimana kelihatannya? Kelihatan bijak, bukan?

Tapi apakah benar demikian?

Bayangkan, misalnya Anda punya 2 orang pegawai bagian pemasaran komputer server.

Pegawai pertama orangnya rajin. Dia menelepon dan presentasi ke 100 orang setiap bulan, tapi tidak bisa menjual barang satu pun.

Dan setiap bulan Anda tetap harus menggajinya sekalipun ia tidak menghasilkan apa-apa.

Pegawai kedua, kelihatannya santai saja.

Dia hanya menelepon 20 orang setiap bulan tapi bisa menjual 20 unit komputer.

Dia juga mendapat gaji, tapi hasil penjualannya membuat perusahaan mampu menggaji dia,

memberi keuntungan perusahaan serta membuat perusahaan mampu

menggaji yang pegawai yang tidak produktif seperti orang pertama.

Bagaimana dengan ilustrasi di atas?

Apakah Anda memilih punya pegawai seperti orang pertama, rajin, terus berusaha tapi tidak memberi hasil.

Apakah Anda memilih pegawai kedua yang tenang, terkesan lebih sanatai, santai tapi hasilnya signifikan.

Silahkan jawab sendiri.

Manusia butuh hasil.

Karena tanpa hasil kita tidak bisa survive.

Sumber daya manusia terbatas.

Kalau Anda bekerja pada manusia dan hanya menawarkan janji kerja keras,

bersumpah akan berusaha sekuat tenaga, tapi tidak memberikan hasil.

Siap siap saja kehilangan pekerjaan. Itu realitas dan itu logis.

Sedangkan Tuhan, Ia mempunyai kekuatan yang tidak terbatas,

Baru niat baik saja kita sudah dihitung satu kebaikan.

Kalau kita berusaha gagal, usahanya saja sudah dapat pahala.

Kalau gagal terus, tapi berusaha terus dan tetap gagal terus, Tuhan tetap bisa memberi pahala.

Karena sumber daya Tuhan tidak terbatas.

Pemahaman 'yang penting usaha, bukan hasil' bisa menyesatkan karena

membuat kita merasa nyaman sekalipun tidak berhasil,

merasa kita sudah mencapai sesuatu padahal belum kemana-mana.

Mungkin lebih bijak begini

Proses dan sukses sama pentingnya,

Usaha dan hasil sama pentingnya.

Tapi pada prakteknya tetap saja manusia butuh hasil, lebih dari lainnya.

Tapi semua terserah Anda.Kalau Anda tetap percaya 'yang penting proses bukan hasil' juga tak apa.

Toh masing-masing akan menanggung akibat atas apa yang dipercayainya.

Kepada orang lain, terutama kepada anak-anak, saya sendiri sering juga mengatakan:

"Yang penting sudah berusaha, hasil kita lihat nanti"

Tapi itu dalam rangka tetap menyemangati, tetap memberi penghargaan atas kerja,

agar semangat mereka tidak surut.

Tapi terhadap diri sendiri saya selalu mengatakan:

"Saya harus berhasil, kerja keras tanpa hasil berarti masih kurang keras, masih kurang cerdas".

Bagaimana dengan Anda?

Read more

0 Kaca Ajaib

Isa Alamsyah

Al kisah di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang kakek bijak yang kaya raya.

Ia dikenal sakti karena mempunyai kaca ajaib yang bisa menuntaskan berbagai masalah ekonomi.

Suatu hari datanglah seorang pengusaha yang baru saja bangkrut dari usahanya.Ia sangat frustasi, apalagi hartanya yang dulu melimpah kini jadi hutang yang membengkak.

Pengusaha tersebut datang kepada sang kakek dan berharap bisa melihat cermin ajaibnya.Konon mereka yang melihat kaca ajaib ini akan kembali menjadi kaya.

"Kek, izinkan saya melihat cermin ajaibnya, agar saya bisa bangkit kembali, " pintanya.

"Tapi ada syaratnya, kamu harus mengikuti dulu ilmu pendahuluannya," jawab sang kakek.

Singkat cerita akhirnya sang pengusaha berguru pada sang kakek.

Mereka membahas segala permasalahan bisnis yang dihadapi sang pengusaha.

Selama diskusi berhari-hari, satu persatu masalah mulai terpecahkan.

Dari pertemuan tersebut si pengusaha mulai menemukan celah baru untuk mendapatkan modal,

ia punya visi baru tentang bisnisnya, ia tahu bagaimana melunaskan hutangnya dengan strategi baru.

Intinya pengusaha itu sudah mendapatkan semangat dan visi baru untuk membangun bisnisnya.

"Nah, nampaknya kamu sudah siap melihat kaca ajaibku," seru sang kakek di akhir pertemuan.

"Baik Kek, terima kasih atas bimbingannya," kata pengusaha itu menggebu gebu.

Lalu mereka masuk keruangan khusus yang selalu terkunci rapat.

Ruangan itu putih, kosong dan nyaris tidak ada apa-apa.

Hanya ada satu kaca dipojok yang terbungkus kain putih.

Lalu sang kakek, memegang kain penutup kaca siap membuka.

Sebelum membuka penutup, sang kekek tersebut berkata:"Kamu jangan kaget, pokoknya kamu tanya pada yang kamu lihat di kaca tersebut,

apakah dia bisa membantu. Kalau dia bilang bisa, maka masalah kamu selesai."

"Baik, Kek!" kata pemuda itu tak sabar,

hatinya menggebu-gebu ingin bertemu dengan penolongnya.

Satu ...dua.. tiga....

Tadaaa...seru sang kakek mengangkat kain sambil bersikap seperti pesulap yang baru saja mempersembahkan magicnya.

Akhirnya kaca itu terbuka.

Pemuda itu kaget melihat sosok di kaca tersebut.

Ya, kaca ajaib itu tidak lain hanyalah cermin biasa.

Dan yang terlihat oleh pengusaha tersebut adalah dirinya sendiri.

"Ya, itulah penolongmu sekarang," kata sang kakek.

Silahkan tanya pada dirimu, silahkan tanya pada dirimu sendiri, apakah kamu siap menolong dirimu.Karena semua masalahmu hanya akan selesai kalau kamu mau menolong diri sendiri

dan sadar semuanya tergantung kamu sendiri.

Dengan semua yang baru dipelajari, dengan semua semangat yang baru didapat,

pengusaha itu akhirnya sadar kini masa depan ada ditangannya sendiri.

Ia tidak perlu kaca ajaib untuk mewujudkannya.

Hikmah:Begitulah kehidupan kita.

Ketika kita menghadapi masalah, ketika kita menghadapi kendala,

maka diri sendirlah yang harus menjadi tumpuan utama untuk bangkit.Kalau ada yang membantu Alhamdulillah, kalau ada yang menolong ya syukur,

tapi tetap saja pada akhirnya diri sendiri yang jadi tumpuan harapan.

Orang mungkin bisa menyerah membantu kita, orang bisa menolak untuk menolong kita,

tapi selama kita masih mau menolong diri sendiri, kita tetap bisa bangkit.

Don't give up on yourself!

Apakah Anda punya cermin di rumah?Berarti Anda punya kaca ajaib.

Jika ada masalah, lihatlah ke cermin dan katakan

"SAYA AKAN MENGATASINYA"Lihatlah cermin dan sosok itu adalah SOLUSI atas semua masalah ANDA.

Anda adalah jawabannya, karena Tuhan telah memberikan semua yang kita butuhkan untuk bangkit.

No Excuse!

Read more

0 Ada dan Tiada

Isa Alamsyah

Saya memiliki sebuah souvenir bergambar bayi dengan tulisan:

"Some people make the world more special only by being in it"

-sebagian orang (bayi) membuat dunia menjadi lebih istimewa hanya dengan berada di sana.

Apakah Anda pernah juga melihat atau membacanya?

Ya, kehadiran bayi membuat dunia menjadi lebih indah,

sekalipun bayi belum melakukan apa-apa, mereka membuat ayah bundanya bahagia.

Kakek neneknya bahagia, om tantenya bahagia.

Melihatnya saja kita sudah bahagia, mendengar kehadirannya saja keluarga besar sudah ceria.

Sadarkah Anda, sebagian besar kita mempunyai kekuatan sebesar itu ketika bayi.

Bayangkan saja, kita belum bisa bicara, sudah bisa membuat orang tertawa.

Kita belum bisa berkarya sudah membuat orang bahagia.

Itu membuktikan bahwa kita sejak kecilpun, bahkan sebelum bisa melakukan apa-apa,

sudah mempunyai kemampuan untuk membahagiakan orang lain,

membuat dunia lebih ceria.

Logikanya, setelah ditambah kemampuan maka harusnya lebih mampu membahagiakan orang bukan?

Lebih mampu membuat dunia lebih ceria bukan?

Lalu bagaimana dengan keadaan sekarang?

Apakah setelah kita bisa berbicara kita membahagiakan lebih banyak orang atau justru sebaliknya?

Apakah setelah kita berkarya kita memberi manfaat lebih banyak bagi orang lain?

Manusia dan keberadaannya terbagi atas 3 bagian utama;

Kelompok pertama (positif): Ketika ada memberi pengaruh baik, ketika tidak ada dinanti dan dirindukan keberadaannya.

Kelompok kedua (Netral): Ada atau tidak ada sama saja.

Kelompok Ketiga (Negatif): Ketika ada memberi pengaruh buruk, ketika tidak ada membuat orang bahagia.

Di posisi manakah Anda?

Dalam profesi apapun, dalam keadaan apapun, penempatan kelompok ini berlaku.

Sekalipun kadang ada orang yang dikeluarga masuk kategori kelompok pertama

tapi di pergaulan masuk kelompok kedua atau sebaliknya, dsb.

Ada pegawai yang kalau dia tidak ada kantor jadi semrawut. Segala hal beres kalau dia datang.

Segala yang tidak beres selalau dia kerjakan agar jadi beres.

Orang seperti ini kalau konsisten akan bermanfaat di mana saja.

Tapi ada pegawai yang datang selalu terlambat dan sering minta izin tidak masuk karena berbagai alasan.

Apa yang terjadi? Pegawai ini memposisikan dirinya menjadi kelomkpok kedua.

Ada atau tidak ada sama saja.Akhirnya perusahaan terbiasa dengan ketidakberadaan pegawai tersebut

dan akibatnya karena dianggap tidak berguna ia dipecat.

Yang lebih parah ada pegawai yang kerjanya tidak jelas,

tapi selalu menghasut pegawai lain atau menciptakan suasana kerja jadi tidak nyaman.

Yang begini enaknya diapain ya? Terserah.

Ada anak yang selalu membuat orang tua bahagia.

Kalau ayah pulang kecapean, bertemu anak ini jadi ceria, ayah ibunya bertengkar kalau ada anak ini jadi damai.

Tapi ada juga anak yang kalau di rumah selalu bikin rusuh dan bikin pusing orang tua.

Terhadap anak ini ada orang tua yang frustasi dan memilih untuk mengirim anak tersebut ke asrama.

Ada manajer yang kalau dia datang urusan pekerjaan malah jadi rumit,

padahal kalau dia tidak datang semuanya baik-baik saja.

Ada orang yang kalau dia ada, lingkungan di sekitar jadi tidak nyaman, terancam dan terintimidasi.

Jelas ini adalah jenis orang ketiga.

Contoh paling vulgar adalah penjara. Penjara adalah tempat paling ekstrem untuk kelompok ketiga.

Coba tanya pada diri Anda, masuk ke dalam kelompok manakah Anda.

Di keluarga?

Di kantor?

Di lingkungan tetangga?

Kalau Anda ada, apakah orang merasa lebih nyaman?

Apakah orang lebih senang kalau Anda tidak ada?

Atau Anda ada dan tiada sama saja?

Read more

0 Kamu tidak boleh minum!

Isa Alamsyah



Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahuin 40-an.

Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air

untuk menyiram tenggorokannya kering.

Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan:

"Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur"

Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.

Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus.

Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar.

Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran,

tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat ini masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya.

Ia lalu bertanya-tanya:

Kenapa ini terjadi padaku?

Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku?

Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur?

Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum?

Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?

Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya.

Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan "DENDAM POSITIF"



Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya.

Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari.

Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya.



Buah kerja kerasnya menggapai hasil.

Ia akhirnya bisa lulus SMA.

Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu.

Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi.

Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan.



Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya.

Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus.

Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain.

Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.



Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur.

Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.

Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata;

"Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu"

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini:

"Aku ingin berterima kasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu.

Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini."

Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan.



Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak.

Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut.

Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.



Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya?

Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia.

Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan.

Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.



Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.



Tahukah kisah siap ini?

Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.



Itulah kekuatan "DENDAM POSITIF"

Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita.

Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.

Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.

Apakah ingin hancur karenanya?

Atau bangkit dengan semanagat "Dendam Positif."



Jika ingin mendapat lebih banyak tahu tentang dendam positif, silahkan baca buku terbaru motivasi ringan

karya Isa Alamsyah dan Asma Nadia (5 in 1)

Lima buku motivasi ringan dalam satu paket.

Titel bukunya "Dendam positif."

Dalam satu paket ada 5 buku motivasi ringan

1. Dendam Positif

2. Jangan Takut Gagal

3. Mulai Dari Bawah

4. Jangan Malu Jangan Gengsi

5. Saya bisa jadi apa?
Read more

0 Silakan istirahat di ruangan saya

Isa Alamsyah

Sepasang suami istri setengah baya datang ke lobby sebuah hotel kecil di Philadelphia.

Sudah beberapa hotel mereka datangi dan nampaknya ini harapan terakhir.

Apalagi saat itu hujan turun deras, jadi tak banyak lagi pilihan untuk mereka berteduh.



"Semua hotel besar di kota ini telah terisi, bisakah kau memberi kami satu kamar saja..?" tanya pria itu pada petugas hotel, setengah memelas.

"Semua kamar telah penuh karena ada 3 event besar yang bersamaan diadakan di kota ini," jawab petugas hotel,

"tapi saya tidak mungkin meminta Anda berdua pergi untuk kehujanan di luar sana pada pukul satu dini hari seperti ini," lanjutnya.

Lalu petugas itu bertanya, "Bersediakah Anda berdua tidur di kamar saya? Tidak mewah, tapi cukup baik untuk istirahat."

Akhirnya kedua pasangan itu tidur semalam di ruang tidur sang pegawai, dan sang pegawai tidur sedapatnya.



Pasangan itu sangat berterima kasih pada sang pegawai.

Keesokan harinya, sebelum berpisah, pria tua itu berkata pada si pegawai hotel, "Orang seperti kamu seharusnya menjadi pimpinan hotel terbaik di Amerika. Karena kamu melakukan pekerjaanmu dengan hati yang mau melayani. Mungkin suatu hari saya akan membangunkan sebuah hotel untukmu".

Pegawai hotel itu hanya tersenyum lebar mendengar ocehan orang tua itu, dan mereka pun berpisah.



Kira-kira dua tahun kemudian, pegawai tersebut menerima surat yang berisi tiket ke New York permintaan agar dia menjadi tamu pasangan setengah baya yang pernah ditolongnya.

Setelah tiba di New York, pria setengah baya tersebut mengajak pegawai hotel itu ke sudut jalan antara 5th Avenue dan 34th Street. Di sana pria itu menunjuk sebuah bangunan baru yang luar biasa megah dan mengatakan,

"Itulah hotel yg saya bangun untuk kamu kelola".



Tahukah siapa pegawai tersebut?

Pegawai hotel itu adalah George Charles Boldt, yang kini dikenal sebagai pebisnis perhotelan ternama.

Karirnya melesat sejak ia dipercaya mengelola hotel milik pria yang pernah diizinkan menginap di kamarnya.

Tahukah siapa pria setengah baya yang ditolongnya?

Ia adalah William Waldorf Astor, pemilik jaringan hotel Waldorf-Astoria, yang merupakan salah satu jaringan hotel terbaik di dunia.



Kisah ini menunjukkan pada kita, sebuah kebaikan kecil bisa mengubah masa depan.



No Excuse! untuk tidak berbuat baik

Seringkali kita menganggap kita tidak punya modal untuk berbisnis tapi apakah benar demikian?Modal tidak hanya uang, tapi kepercayaan dan kredibilitas adalah modal yang tidak bisa diremehkan.

Bahkan lebih besar daripada modal uang.



Kisah seperti di atas bisa kita lihat pada kisah Christopher pada buku No Excuse! halaman 11.

Sebuah kebaikan adalah investasi.

Sekalipun jangan berharap pamrih, karena setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT,

akan tetapi tidak jarang kebaikan juga langsung berbuah manis di dunia.

George Charles Boldt sudah membuktikan, juga Christopher pada buku No Excuse!



Kredibilitas juga modal yang penting.

Dalam buku No Excuse! kita bisa juga lihat kisah Conrad Hilton.

Setelah dipecat dari pekerjaaannya, ia bisa membangun hotel karena ia punya kredibilitas.

Orang percaya padanya sehingga ia dengan mudah bisa meminjam uang yang nilainya 4 kali lipat dari kekayaannya.

Jika ia tidak berinvestasi menjadi orang yang bisa dipercaya, mana mungkin orang mau invest pada Hilton yang baru kehilangan sumber penghasilan.



Sering kita dengar orang mengeluh:"Cari modal susah!""Mana ada orang mau investasi ke saya!"

Pertanyaannya:

Apakah selama ini ia telah membangun image sebagai orang yang bisa terpercaya mengelola modal?



Jadi jangan hanya mengeluh ketika tidak ada modal.

Investasi kebaikan sebanyak-banyaknya dari sekarang.

Bangun kredibilitas dan kepercayaan.Karena kebaikan sebesar biji zarah pun ada balasannya.

Kita tidak pernah tahu bagaimana kebaikan akan menolohng kita di masa depan,

tapi bisa dipastikan setiap kebaikan ada nilainya.



Investasilah dalam kebaikan. No Excuse!
Read more

0 Mana pertolongan Tuhan?

Mana pertolongan Tuhan?
Isa Alamsyah

Hujan besar semalaman membuat sebuah desa tenggelam banjir yang sangat parah. Penduduk langsung mengungsi untuk menyelamatkan diri.
Ketika banjir sudah setinggi lutut, setengah penduduk sudah mengungsi.
Mereka berlarian dengan motor, mobil dan kendaraan apapun yang ada.
Saat itu ada seorang ibadawan yang menolak untuk mengungsi karena ia yakin pertolongan Tuhan akan datang.
Banjir sudah semakin tinggi, kali ini sudah setinggi kepala. Semua penduduk berusaha mengungsi dengan perahu karet yang datang menolong. Hanya sisa segelintir saja yang masih terjebak.
Ibadawan itu tetap menolak untuk mengungsi, karena ia yakin pertolongan Tuhan akan datang.
Banjir tetap meninggi, kali ini sudah mulai menutupi atap. Semua penduduk tersisa mulai terangkut dengan bantuan helikopter.
Tapi ibadawan itu tetap menolak naik helikopter, karena ia yakin pertolongan Tuhan akan datang. Ibadawan itu kini jadi satu-satunya yang tersisa.
Banjir tetap meninggi, kali ini atap rumah bahkan sudah tenggelam.
Di atas atap, kaki ibadawan itu mulai terendam air, lalu pinggangnya, lalu lehernya.
Ibadawan itu menengadahkan kepala, melihat langit dan berteriak, "Wahai Tuhan, mana pertolonganMU. Aku sudah begitu sabar menunggu bantuanMu, tapi tak kunjung datang juga!"
Tidak butuh waktu lama, akhirnya banjir sudah melewati kepala sang ahli ibadah, ia berusaha berenang tapi arus terlalu kuat akhirnya ia mati tenggelam.

Di alam kematian, ia bertemu malaikat.
Ia protes, "Wahai Malaikat, aku mau bertemu Tuhan. Aku selalu beribadah dan percaya bahwa Sang Pencipta akan menolongku, tetapi kenapa tidak kunjung datang juga pertolongan itu?"
Malaikat menjawab, "Siapa bilang Tuhan tidak menolong. Ia telah mengirim mobil untuk menyelamatkanmu tapi kamu tidak mau naik mobil itu. Ia juga telah mengirim perahu untukmu tapi kamu tidak peduli. Ia bahkan mengirim helikopter untukmu tapi kamu acuhkan. Kesimpulannya, ya kamu memang ingin mati!"
Ibadawan itu menangis, ia merasa begitu bodoh mengira bahwa pertolongan Tuhan akan datang mungkin seperti kilat yang akan memindahkan ia ke tempat lain, atau seperti matahari yang langsung mengeringkan banjir atau seperti tanah yang langsung menyerap banjir hingga kering.
Ibadawan itu sadar semua sudah terlambat.

Apa pelajaran yang kita bisa ambil?|
Seringkali kita menganggap Tuhan belum menolong kita, padahal Ia sudah mengirim berbagai bantuan yang ada disekitar kita.
Ketika kita miskin kita merasa Tuhan tidak memberi bantuan bantuan, padahal mungkin Ia sedang menyiapkan kita untuk jadi pemenang yang tangguh karena digembleng kehidupan yang keras.
Ketika kita menghadapi masalah kita mengira Tuhan menghukum kita, padahal Ia sedang menyiapkan kita untuk jadi pemenang dengan training kehidupan.
Kini saatnya kita melihat sekitar, jangan-jangan semua yang ada disekitar kita adalah bala bantuan dari Tuhan yang selama ini kita sia-siakan.

No Excuse! Karena Tuhan selalu bersama kita.
Read more

0 Cari Ranting Terbaik

Cari Ranting Terbaik
Isa Alamsyah

Dalam sebuah kegiatan petualangan hutan, seorang instruktur Pencinta Alam memerintahkan kepada anggotanya untuk masuk ke hutan dan mencari ranting terbaik. Syaratnya ranting tidak boleh dipatahkan dari pohon tetapi harus yang sudah jatuh ke tanah. Syarat kedua, jika mereka sudah memegang satu ranting maka itu adalah pilihannya tidak boleh diganti. Syarat ketiga, setelah pluit tanda lomba berakhir ditiup maka semua harus diam dan tidak melakukan aktivitas. Pluit bisa ditiup kapan saja tergantung instruktur.

Sebagai hadiah, yang mendapatkan ranting terbaik akan mendapat perjalanan petualangan ke Alpen secara gratis bersama pendaki profesional dari seluruh dunia.
Tentu saja semua ingin mendapat hadiah yang menarik tersebut.

Setelah waktu di mulai masuklah seluruh anggota pencinta alam ke dalam hutan.
Awalnya semua bersemangat untuk menemukan ranting yang terbaik. Akan tetapi, setiap kali mereka menemukan ranting yang terbaik, mereka tidak berani memegang karena takut ada lagi ranting lain yang lebih baik. Apalagi persaingan sangat ketat dan semua ingin menemukan ranting terbaik dibanding pesaingnya. Setiap kali mereka menemukan ranting yang lebih baik, mereka selalu melihat ranting lain yang lebih baik. Maka mereka bergerak dan bergerak mencari lagi ranting lain yang mungkin lebih baik.
Di hutan itu banyak sekali ranting yang sudah berjatuhan di tanah, sehingga agak sulit menemukan ranting yang terbaik.
Setelah sekian lama, setiap anggota sudah punya banyak pilihan alternatif ranting terbaik, tapi belum berani memegang karena takut ada yang lebih baik lagi. Mereka sibuk mengingat di mana saja alternatif ranting yang akan mereka pilih.

Tiba-tiba...prrriiiittttt.
Tanda lomba sudah berakhir.
Sebagaimana perjanjian, semua harus diam.
Lalu instruktur melihat satu persatu anggota yang mengikuti lomba.
Diperhatikannya satu persatu untuk membandingkan ranting siapa yang lebih baik dari yang lainnya.
Ternyata, tidak ada satupun dari anggota yang memegang ranting. Semua terlalu sibuk mencari yang lebih baik, dan lebih baik lagi sampai akhirnya ketika waktu berakhir mereka belum memutuskan ranting yang mana.

Tahukah siapa mereka?
Mereka mewakili sebagian besar kita.
Kadang kala karena terlalu berharap akan peluang besar kita mengabaikan banyak peluang yang ada di depan kita.

Ada sarjana yang melamar kerja di mana-mana, menanti pekerjaaan yang terbaik yang sesuai dengan bidang studinya.
Tapi tanpa sadar ia sudah menganggur selama puluhan tahun.
Padahal banyak peluang di depan mata yang dilewatkannya.
Lagipula sambil menunggu peluang terbaik, kita bisa saja mencoba peluang-peluang lain.

Ada juga jomblo yang menunggu calon terbaik, tanpa sadar menjomblo sampai bertahun-tahun. Kadang ada yang menjomblo karena terlalu banyak calon sampai tidak tahu lagi mana yang terbaik, kadang karena yang muncul tidak sesuai dengan kriteria. Saya berdoa semoga segera mendapatkan yang terbaik untuk mereka.

Ada juga yang menunggu peluang bisnis. Begitu lama menunggu sampai mengabaikan banyak peluang yang lewat di depan mata.

Masalahnya kita tidak tahu kapan pluit masa akhir hidup kita akan ditiup.
Ajal bisa menjemput kapan saja, apakah kita memilih untuk segera beraksi dan berbuat dengan apa yang ada, sambil menunggu kesempatan yang ideal, atau hanya menunggu dan menunggu peluang yang dianggap terbaik, sambil bertaruh dan berpacu waktu dengan berama lama kita masih punya jatah hidup di dunia ini.

Itu semua pilihan Anda!
No Excuse, karena peluang selalu ada!
Read more

0 Satu nasehat dua tafsiran!

Seorang pengusaha muda yang sukses dan kaya raya terpaksa harus menghadapi ajalnya karena kanker kulit yang parah akibat sensitifitas tidak normal terhadap sinar matahari.
Sebelum meninggal, kepada dua anaknya yang masih belia ia berpesan :
"Ayah akan mewarisi seluruh kekayaan dan usaha ini pada kalian berdua. Ayah hanya memberi dua pesan utama agar kalian sukses dan kaya raya seperti ayah tapi bisa menikmatinya lebih lama. Pertama jangan biarkan sinar matahari menyinari kulitmu secara langsung terlalu lama, karena mungkin gen kanker kulit ini menurun pada kalian. Kedua, dalam bisnis, jangan pernah menagih hutang pada pelanggan."
Setelah memberi pesan tersebut sang ayah meninggal, tanpa sempat memberi penjelasan yang lebih banyak. Kedua anak tersebut berjanji akan memenuhi permintaan ayah mereka.
Kedua anak tersebut dibesarkan oleh ibunya. Setelah cukup umur, sang ibu memberi keduanya usaha yang diwariksan ayah mereka.
Sepuluh tahun kemudian, salah satu anak menjadi anak yang sangat kaya raya, sedangkan satu lagi menjadi sangat miskin.
Sang ibu akhirnya bertanya, kenapa salah satu menjadi miskin sedangkan yang satu menjadi kaya. Padahal keduanya memegang teguh nasehat ayah mereka.
Anak yang miskin berkata pada ibunya.
"Ibu, bagaimana saya tidak miskin. Ayah berpesan agar selalu menghindari matahari. Jadi setiap pagi aku harus pergi pakai kendaraan, sewa mobil, naik taksi, sekalipun sebenarnya jaraknya dekat dan bisa jalan kaki. Tentu saja hidup saya menjadi boros. Lalu ayah berpesan jangan menagih hutang kepada klien. Tentu saja bisnis saya tidak berjalan baik. Setiap kali ada yang menunggak saya tidak bisa menagih sehingga lama kelamaan modal saya habis. Saya jadi bangrut dan miskin!"
Lalu sang ibu menengok ke wajah anak yang kaya raya, menunggu jawaban.
Kepada sang ibu anak yang kaya berkata;
"Wahai ibu, saya menjadi kaya raya seperti ini karena mengikuti nasehat akhir ayah. Karena ayah meminta saya menghindar dari matahari, maka saya selalu pergi ke kantor sebelum matahari terbit. Kalau dekat saya bisa jalan kaki tanpa perlu takut sinar matahari karena belum terbit. Karena saya selalu datang pagi pegawai jadi ikut disiplin tidak berani terlambat. Sedangkan ketika pulang, saya selalu menunggu matahari terbenam, jadi jam kerja saya selalu di atas rata-rata orang lain. Lalu ayah berpesan jangan menagih hutang pada klien. Karena itu saya menerapkan sistem cash and carry, sehingga arus kas perusahaan saya sangat maju."
Demikianlah akhirnya sang ibu tahu bagaimana nasehat yang sama bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda dan hasilnya jauh berlawanan.

Apa pelajarannya?
Kadang konsep dan penerapan berbeda jauh.
Sering kita lihat orang yang memegang kitab suci yang sama tapi berbeda jauh kualitas hidupnya, padahal keduanya sama-sama merasa berpegang teguh pada kitab tersebut.
Sering kita lihat pegawai yang bekerja dengan peraturan perusahaan yang sama tapi sikapnya saling berseberangan.
Kadang -kadang masalah utama bukan di peraturannya tapi bagaimana kita menerjemahkannya.

Bagaimana menurut Anda?
Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More